|
Ditulis oleh Ahmad Syafi'i
|
|
Selasa, 22 Desember 2009 17:01 |
|
Jasamu Bunda Jasamu Bunda Keluh pilu tak kau hiraukan Kening indahmu berucuran keringat yang menetes Sengat surya serasa sahabat bagimu Langkahmu tak surut meski awan berkabut Sepenuh hati kau beri aku cinta Tanpa harap ganti dariku Santun sayang membelai indah Adakah suatu nanti kau lelah? Ingatkan aku saat nasehatmu mulai kuabaikan Beri aku cahaya bila gelap menyapa jiwa Suci jasamu bunda tak sepenuhnya dapat kubalas Jasamu Bunda *)Ahmad Syafi’i Kelas X MA Al Muayyad Surakarta, Jl. KH. Samanhudi, 64, Mangkuyudan, Solo 57142. DIMUAT : SOLOPOS, Minggu, 20 Desember 2009 |
|
|
Ditulis oleh Miftahul Abrori
|
|
Selasa, 01 Desember 2009 22:40 |
|
| Sajak Sang Pengembara (Kepada Bunda)
Miftahul Abrori
Tak usah kau hiraukan, kemana kaki kupijakkan Ketika aku mengembara, Di bumi yang mulai retak Memanggul pena, memetakan nasib di kertas putih Berburu takdir yang tak bisa diterka
Maka... Jika tak kau dapati baktiku padamu Jangan sesalkan bulir peluh yang mengucur di nadiku Air susu yang mengalir di darahku
Selama langkahku tak membuyarkan warna pelangi Biarkan aku mengembara, di bumi yang mulai retak Tak peduli jejak kaki tinggalkan cerca Ucap jiwa sisakan kesah Kutahu doamu selalu membimbingku Di perantauan ku tak bisa tenang hidup tanpa cintamu Aku butuh nasehatmu karena perjalananku Tak sesederhana air yang mengalir Tak semudah kebetulan
Aku tak ingin seperti layang-layang, menyerah saja dipermainkan angin Ada cita yang harus dicari Ada suara yang harus dikabarkan
Surga itu masih di telapakmu Tangan Tuhan masih di tanganmu Dan saat aku mengembara, di bumi yang mulai retak Aku sadar, aku tak bisa berbakti Mungkin tak sekarang Entah kapan, aku pun enggan berjanji Dedicated for my mother and mothers in the world Bumi Mangkuyudan, Solo, Desember 2008 | Dimuat Suara Merdeka, 21 Desember 2008 |
|
Ditulis oleh Umairotin Ma'wa
|
|
Mak... Dengarlah nyanyian di perutku Mengusik tidur Membelah malam Jeritan kerongkongku menusuk raga Jiwaku mulai lapuk Memimpikan tetes air susumu yang mengkafan Mak.... Hatiku berkarat Menahan ludah di wajah Mendengar lagu hina neraka Otakku kian mengerut Memumikan sembilan kakakku yang membatu Menanam lima adikku yang terkapar membumi Perempuan Itu Ibuku Perempuan berbakul di punggung itu Ibuku Kobaran perjuangannya mendekapku dalam kekaguman Perempuan berwajah lesu itu Ibuku Tiupan kesabarannya mematriku tegap berdiri Perempuan berkerut di pipi itu ibuku Helaan nafasnya mendamaikan irama hidupku Umairotin Ma'wa, Lahir di Sukoharjo, 13 Desember 1992. Mempunyai hobi membaca dan mendengarkan musik. Alamat rumah JL. Pemuda No.90, RT 03/01 Jetis Polokarti Sukoharjo. Santri Pesantren Al Muayyad yang juga Siswi SMA Al Muayyad Surakarta
Dimuat Buletin Matapena, Jogjakarta Edisi Agustus 2009 |
|
Ditulis oleh Noorrela Ariyunita***)
|
Jika angin menyapa rambutmu Ku titipkan salam untukmu Jika air mengalir di matamu Ingin kukeringkan dengan hatiku Langit yang aku pandang Sama dengan langitmu Dengan awan putihnya Kulukis rinduku padamu Ayah… Lihatlah tangisku Memimpikan dekapanmu lagi Menginginkan cintamu kembali ***)BIODATA Nama : Noorrela Ariyunita TTL : Ngawi, 31 Januari 1994 Alamat : Kedung Jambu, RT 02/02 Jambangan, Paron, Ngawi JATIM Sekolah : SMA AL Muayyad Surakarta |
|
Ditulis oleh Nina Mazaya**)
|
500 gram Semangat 150 liter Cita 2 sendok Teh kenangan indah 2 kilogram Senyum Tambahkan Serbuk cinta agar terasa manisnya Larutkan semua bahan ke dalam gelas-gelas kehidupan Minumlah selagi hangat Jangan diminum dengan sendok kesedihan Tetapi dengan sendok keceriaan Karena ini ramuan remaja Terasa nikmatnya Untuk kebahagiaan selamanya **)BIODATA Nama : Nina Mazaya TTL : Kendal, 30 April 1993 Alamat : Jl. Raya Soekarno Hatta, No. 241, Kendal Sekolah : SMA Al Muayyad Surakarta Facebook : Nina Mazaya Email :
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 2 dari 3 |