ja_mageia

Kata Mutiara

Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.”
(HR Ibnu Majah)
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Awal Galeri Cerpen
Cerpen
Lelaki dan Wanitaku
Ditulis oleh Nina Mazaya   
Minggu, 18 Juli 2010 18:12
Saat itu, jangan palingkan wajahmu dari wajahku.Aku tak kuat lagi menahan ini semua. Harus menahan rindu yang akhirnya menjadi luka. Ingin segera kuobati atau malah justru kugaruk saja meski nanti kian parah lukanya. Yang ingin kulakukan sekarang pergi ketempatmu dan menjalin kasih yang lama terputus. Tapi, kau tak pernah memberitahu kemana kau akan pergi. Juga tak pernah kudengar lagi kabarmu semenjak kau meninggalkanku.
“Jangan pernah berpaling dariku”. Katamu saat itu.
Kau pikir aku sanggup menahan rinduku ini? Tidak. Kali ini tidak. Dan akupun tak mau berpaling. Meski dengan tanpa sepenuh cinta, seorang wanita mencoba mendekatiku dan aku mulai tergoda. Mungkin aku membutuhkannya untuk sekedar melepas dahagaku karena tanpamu. Sungguh aku tak ingin berpaling.
Selengkapnya ...
 
Belenggu Penulis
Ditulis oleh Ali Rosyad   
Senin, 25 Januari 2010 22:21

Cerpen Ali Rosyad

Di sudut ruangan itu Ibrahim terus menorehkan tinta, meramu dan memadukan kata menjadi kalimat yang bernas nan mempesona. Ia menulis cerita tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi yang kini sedang dirundung duka nestapa. Negeri mereka terkena bencana yang tak tau kapan berakhirnya. Ibra menceritakan realita hidup masyarakat yang selalu menyandang predikat miskin dan berharap segera akan kaya. Dalam tulisannya penulis tua itu selalu berharap semoga negeri ini segera kembali pada kemakmuran yang selalu dinanti – nanti rakyat.

Malam kelam sekelam nasib bangsa ini. Hawa dingin terus menelusup dalam relung-relung tulang belulang, semakin dingin seiring hujan yang mengguyur menyisakan lumpur dan sampah yang mengganggu pemandangan. Malam ini bagai bencana yang tak dapat diduga. Hujan tak mau berhenti membawa limpahan sampah yang masuk rumah-rumah warga. Mereka kalang kabut mengetahui air bah yang datang tanpa terduga sebelumnya.

Selengkapnya ...
 
Perempuan Melati
Ditulis oleh Fatimah Wahyu Sundari   
Senin, 25 Januari 2010 22:15

Cerpen Fatimah Wahyu Sundari

Dimuat : SOLOPOS, Minggu 17 Januari 2010

Aku melangkah ragu. Tanganku memegang pintu gerbang Taman Kota yang warna catnya mulai memudar. Di taman kota ini aku berdiri mematung. Meski disebut taman ini bukanlah taman biasa. Taman yang terletak di sebelah barat terminal bus ini mempunyai arti tersendiri buatku.. Taman ini dibuat khusus oleh ayahku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-7 saat aku masih duduk di bangku SD.

Aroma khas taman ini masih kentara. Serasa tenang saat kuhirup aroma wangi melati. Melati merupakan tanaman bunga hias perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Karena hidup menahun maka aku bisa menikmatinya setiap saat. Rumput hijau membentang di seluruh penjuru taman. Daun dari pohon akasia yang berwarna coklat berguguran menghiasi rerumputan itu. Aku berjalan menuju ayunan. Kunikmati alam bawah sadarku saat tanganku mulai mengayunkan tempat yang dulu menjadi mainanku.

Selengkapnya ...
 
Kemarau Sang Perawan
Ditulis oleh Eka Bahari   
Selasa, 01 Desember 2009 22:15

Cerpen Eka Bahari

Sudah seperti semacam tradisi, ketika pulang dari Solo, Prasetyo memilih jalan kaki melewati pematang sawah menuju rumahnya. Ia tak mau merepotkan ayahnya untuk menjemputnya di stasiun Jambon, sebuah stasiun kecil di Purwodadi, atau naik ojek lalu harus mengelilingi jalan raya pedesaan.

Kemarau memasuki puncaknya bulan Oktober ini. Sepagi itu Sinar matahari terasa menyengat kulitnya. Inikah dampak dari pemanasan global ?Seingatnya sebelum ia kuliah di Kota Bengawan, suhu udara tak begitu panas. Hampir lima tahun ia meninggalkan kampung halamannya. Selama itu pula ia jarang pulang.

Selengkapnya ...
 
Batas Majnun
Ditulis oleh Ali Rosyad   

 Waktuku disini sudah memasuki tahun kelima. Aku pertama kali masuk ke pesantren ini hanyalah seorang anak kecil yang masih ingusan dan tak tahu apa-apa. Aku berasal dari kaum orang-orang tak punya, untuk sekolahpun ayahku hanya mengandalkan sawah dan kebun yang hanya menghasilkan beberapa peser uang setiap tahunnya. Ayahku memberi nama padaku “Arif Billah”, yang diharapkan supaya aku menjadi orang yang arif dan bisa menjadi ma’rifat billah, tapi karena aku bertingkah laku seperti orang gila banyak temanku di yayasan ini memanggilku “majnun” yang berarti orang gila. Sebetulnya aku tidak gila, sebenarnya aku bertingkah laku seperti orang gila karena memang di dunia ini semua sudah gila, tidak ada yang waras, semua sudah gila dan tergila-gila akan dunia yang hanya menyiratkan kesenangan sesaat.

Selengkapnya ...
 



Dukungan

: Al-Muayyad
: Keuangan
: SMA
: MA
: SMP
: Kopontren

Online

Kami memiliki 13 Tamu online

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini75
mod_vvisit_counterKemarin166
mod_vvisit_counterMinggu ini975
mod_vvisit_counterBulan ini598
mod_vvisit_counterTotal66966

Facebook