|
Belenggu Penulis (Cerepen Ali Rosyad) |
|
Ditulis oleh Ali Rosyad
|
|
Senin, 25 Januari 2010 22:21 |
Cerpen Ali Rosyad Di sudut ruangan itu Ibrahim terus menorehkan tinta, meramu dan memadukan kata menjadi kalimat yang bernas nan mempesona. Ia menulis cerita tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi yang kini sedang dirundung duka nestapa. Negeri mereka terkena bencana yang tak tau kapan berakhirnya. Ibra menceritakan realita hidup masyarakat yang selalu menyandang predikat miskin dan berharap segera akan kaya. Dalam tulisannya penulis tua itu selalu berharap semoga negeri ini segera kembali pada kemakmuran yang selalu dinanti – nanti rakyat. Malam kelam sekelam nasib bangsa ini. Hawa dingin terus menelusup dalam relung-relung tulang belulang, semakin dingin seiring hujan yang mengguyur menyisakan lumpur dan sampah yang mengganggu pemandangan. Malam ini bagai bencana yang tak dapat diduga. Hujan tak mau berhenti membawa limpahan sampah yang masuk rumah-rumah warga. Mereka kalang kabut mengetahui air bah yang datang tanpa terduga sebelumnya. Ibrahim adalah penulis yang terkenal kebenaniannya menyampaikan aspirasi masyarakat lewat tulisan kepada pemerintah yang mengagungkan kekayaan. Menurut Ibra pemerintah selalu menggembar – gemborkan kesejahteraan rakyat, penambahan lapangan pekerjaan dan anti korupsi. Tapi semua tidak ada realisasinya. Lidah tak bertulang. Kaum-kaum pejabat sendirilah yang hidup sejahtera, mendapat pekerjaan enak lau dia sendirilah yang korupsi. Uang-uang rakyat diakuinya untuk memperkaya diri sendiri., Mempercantik kelas di masyarakat dengan membeli barang – barang mewah yang mereka sukai. Tak ada barang yang dia miliki dari toko tradisional. Mereka hanya membeli barang-barang yang berkelas supermarket hingga sampai ke luar negeri yang bernilai jutaan rupiah.
|
|
Selengkapnya ...
|
|
|
Perempuan Melati (Cerpen Fatimah Wahyu Sundari) |
|
Ditulis oleh Fatimah Wahyu Sundari
|
|
Senin, 25 Januari 2010 22:15 |
|
Cerpen Fatimah Wahyu Sundari Dimuat : SOLOPOS, Minggu 17 Januari 2010 Aku melangkah ragu. Tanganku memegang pintu gerbang Taman Kota yang warna catnya mulai memudar. Di taman kota ini aku berdiri mematung. Meski disebut taman ini bukanlah taman biasa. Taman yang terletak di sebelah barat terminal bus ini mempunyai arti tersendiri buatku.. Taman ini dibuat khusus oleh ayahku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-7 saat aku masih duduk di bangku SD. Aroma khas taman ini masih kentara. Serasa tenang saat kuhirup aroma wangi melati. Melati merupakan tanaman bunga hias perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Karena hidup menahun maka aku bisa menikmatinya setiap saat. Rumput hijau membentang di seluruh penjuru taman. Daun dari pohon akasia yang berwarna coklat berguguran menghiasi rerumputan itu. Aku berjalan menuju ayunan. Kunikmati alam bawah sadarku saat tanganku mulai mengayunkan tempat yang dulu menjadi mainanku. Aroma melati masih bersarang di hidungku. Tanganku tak sabar untuk segera memetik melati, mencumbui aromanya. Satu persatu kepingan kenangan tertata serupa puzzle, mainan kesukaanku. |
|
Selengkapnya ...
|
|
Ditulis oleh Eka Bahari
|
|
Selasa, 01 Desember 2009 22:15 |
Cerpen Eka Bahari
Sudah seperti semacam tradisi, ketika pulang dari Solo, Prasetyo memilih jalan kaki melewati pematang sawah menuju rumahnya. Ia tak mau merepotkan ayahnya untuk menjemputnya di stasiun Jambon, sebuah stasiun kecil di Purwodadi, atau naik ojek lalu harus mengelilingi jalan raya pedesaan.
Kemarau memasuki puncaknya bulan Oktober ini. Sepagi itu Sinar matahari terasa menyengat kulitnya. Inikah dampak dari pemanasan global ?Seingatnya sebelum ia kuliah di Kota Bengawan, suhu udara tak begitu panas. Hampir lima tahun ia meninggalkan kampung halamannya. Selama itu pula ia jarang pulang.
Ia mengedarkan pandangan kearah selatan. Tampak bukit Sigit yang beberapa tahun lalu masih menyimpan kekayaan alam berupa kayu jati dan mahoni yang berkualitas tinggi. Sekarang hutan itu gundul, yang tersisa hanya bekas cukuran para blandong atau pembalak liar. Tapi yang ia dengar dari lek Joyo, tetangganya yang sejak krisis moneter terpaksa memilih pekerjaan sebagai pembalak liar, pembalakan besar-besaran justru dilakukan para mandor penjaga hutan. Mungkin karena gaji mereka terlalu kecil atau memang mereka punya bakat seperti kebanyakan pejabat Indonesia : korupsi. Katanya ia bekerjasama dengan para mandor dengan membayar uang setiap pohon yang ditebang. Bahkan ia sering hanya diupah sebagai kuli pikul, lalu balok kayu itu disimpan digudang milik Perhutani.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selengkapnya ...
|
|
Ditulis oleh Ali Rosyad
|
|
Waktuku disini sudah memasuki tahun kelima. Aku pertama kali masuk ke pesantren ini hanyalah seorang anak kecil yang masih ingusan dan tak tahu apa-apa. Aku berasal dari kaum orang-orang tak punya, untuk sekolahpun ayahku hanya mengandalkan sawah dan kebun yang hanya menghasilkan beberapa peser uang setiap tahunnya. Ayahku memberi nama padaku “Arif Billah”, yang diharapkan supaya aku menjadi orang yang arif dan bisa menjadi ma’rifat billah, tapi karena aku bertingkah laku seperti orang gila banyak temanku di yayasan ini memanggilku “majnun” yang berarti orang gila. Sebetulnya aku tidak gila, sebenarnya aku bertingkah laku seperti orang gila karena memang di dunia ini semua sudah gila, tidak ada yang waras, semua sudah gila dan tergila-gila akan dunia yang hanya menyiratkan kesenangan sesaat. |
|
Selengkapnya ...
|
|
|
|
|
|