Banyak sekali kisah bagaimana kaum muslimin sangat dianjurkan mengedepankan adab dalam menuntut ilmu, dan keberkahan adab mampu membangun karakter kepribadian yang Sholih.


Para ulama pun selalu mengingatkan akan pentingnya dan utamanya kisah ADAB.

Berikut pendapat para Ulama :

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al Maliki, berkata :

“Aku murka terhadap penuntut (ilmu) yang tidak menghormati ustadznya, meskipun ustadz tersebut adalah temannya sendiri.”

Al Imam an Nawawi, berkata :

“Seyogyanya bagi seorang pelajar tawadhu kepada gurunya dan menjaga tata krama ketika bersamanya, meskipun gurunya tersebut lebih muda, tidak begitu terkenal, nasabnya lebih rendah dan (mungkin) keshalehannya kalah dengan muridnya. Dengan tawadhu, niscaya ilmu akan ia dapatkan.”

Imam An Nawawi juga berkata :

“Dosa durhaka kepada kedua orang tua bisa dihapus dengan bertaubat, sedangkan dosa durhaka kepada guru sedikitpun tidak akan bisa dihapus."

 

Al Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al Haddad, berkata :

“Yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati guru kepada muridnya (dari yang semula ridha menjadi murka). Andai saja semua guru dari timur dan barat berkumpul untuk memperbaiki keadaan si murid tersebut, maka mereka tidak akan mampu kecuali gurunya tersebut telah ridha kepadanya.”

Lalu bagaiman korelasinya dengan ADAB TA'LIM MUTA'ALIM (Kegiatan Belajar Mengajar) saat ini :

Secara umum Adab Ta’lim Muta’alim terbagi atas tiga hal :

1. ADAB TERHADAP ILMU.

Adab terhadap ilmu, pada dasarnya terbagai atas tiga tahap. Yakni :

Adab SEBELUM Menuntut Ilmu.

Dalam memperoleh ilmu yang mampu mensholihkan, diharapkan setiap insan memiliki :

1). Niat yang benar.

Menuntut ilmu diniatkan sebagai ibadah dan hanya karena Allah semata.

2).️ Menuntut ilmu dengan kerendahan hati.

Meski mungkin kita sudah pernah mendengar ilmu yang sedang disampaikan itu.

3).  Menuntut ilmu dengan niat untuk diamalkan. Karena jika orang mengamalkan ilmunya, maka Allah akan menambah ilmunya.

4). Belajarlah ilmu untuk selanjutnya diajarkan kepada orang lain.

Jangan pelit dengan ilmu yg kita punya. Bukankah salah satu amal yang tak akan putus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat?

5). Mencintai ilmu dengan sepenuh hati. Karena orang akan selalu mengingat apa yang dicintainya. Merasa sulit memahami atau menghapal suatu materi? Bisa jadi itu karena kita tidak atau belum mencintainya.

6).️ Carilah ilmu yang bermanfaat dari guru yang berkapasitas. Ciri ilmu yang bermanfaat adalah, membuat semakin takut kepada Allah.

“… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…”

(QS. Faathir [35] : 28)

 

2. Adab KETIKA Menuntut llmu.

Sangat penting bagi kita untuk memulai hal dengan cara benar, perlu persiapan, dan keyakinan bahwa yang akan kita lakukan ini merupakan bentuk amal Sholih terbaik kita dalam setiap perlakuannya. Maka untuk bisa fokus dan menyadarinya, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut :

️1). Berdo’a di awal dan akhir. Di awal minimal mengucap basmalah, dan diakhiri dengan hamdalah.

2). Berusaha hadir di awal waktu, mencari tempat yang paling baik. Sehingga dapat mendengar atau membaca dengan baik.

3). Dengarlah dengan seksama, jangan sambil berbincang, sms-an, atau malah menelpon.

4). Catatlah materi yang dianggap penting..“Ikatlah ilmu dengan mencatatnya.”

5). Bertanyalah jika ada yang kurang dipahami, ketika sudah dipersilahkan untuk bertanya.

6). Di dalam menuntut ilmu, kita diharuskan untuk bersabar.Jangan meninggalkan tempat kecuali ada sesuatu yang mendesak.

 

3. Adab SETELAH Menuntut Ilmu.

Niatkan untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan.Niatkan untuk menyampaikan kepada orang lain dengan ikhlas. Bertawadhu’ (rendah hati)-lah setelah memiliki ilmu. Tidak masuk surga orang yang di dalam hati ada kesombongan meskipun hanya sebiji sawi.” (HR.Muslim). Gunakanlah ilmu di jalan Allah, untuk menambah ketaqwaan kepada-Nya.

 

4. ADAB TERHADAP GURU.

Menghormati guru, sebagaimana kita hormat kepada orang tua kita.

Meminta nasihat kepadanya, karena beliau tentunya lebih bijaksana karena pengalaman dan ilmunya.

Tidak mendebat guru. Bukan berarti tidak boleh mengoreksi ketika beliau khilaf. Maksudnya adalah tidak boleh “mengadu” guru. Misalnya dengan mengatakan “Guru A mengatakan X, kenapa Anda bilang Y?”

Tidak menyebut keburukan guru kepada orang lain.

Memaafkan kesalahannya. Karena guru juga manusia, tak luput dari kekhilafan.

Menceritakan kebaikan-kebaikannya.

Mendo’akan guru agar diberi kebaikan dunia dan akhirat.

 

5. ADAB GURU TERHADAP MURID YANG DIAJARKANNYA.

Memberikan ilmu sesuai kemampuannya, serta sesuai kebutuhan murid. Bahasa ke anak SD tentu berbeda dengan ke mahasiswa.

Mengasihi murid seperti anak sendiri.

Tidak menyebut keburukan murid di depan murid lainnya.

Mendo’akan murid agar diberi kemudahan dalam pemahaman ilmu untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Dari uraian diatas, maka teramat penting kita semau sebagai Guru/Pengajar, Para Orang Tua, Pengelola/Management Sekolah dan Ananda sebagai objek pendidikan, bersinergi untuk menerapkan dan mewujudkan bi'ah adap ini sebagai bentuk ikhtiar kita bersama untuk menggapai Ridho Allah SWT dalam wasilah mendidik anak-anak kita, sehingga terpeliharalahnya adab dalam menuntut ilmu.

Inilah rahasia akhlak yang telah dicontohkan para sahabat terhadap guru besar penuh teladan, baginda Rosulullah Shalallahu'alaihi wassalam. Dan diteruskan oleh para ulama terhadap guru-guru mereka, hingga terwujudlah peradaban yang mulia karena keberkahan ilmu Islam yang dimiliki dan yang teramalkan,

Wallahu a'lam

Artikel dirikim oleh  KH. Khoirul Mustamir Kholid ( Pengampu Program Tahfidz MA-MDW Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta )