فضائل القرآن

Disusun oleh
KH Muhammad bin Sulaiman Al-Hafidz

Tegalsari Solo

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلَْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ! الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ! مَـالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ !وّصَـلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ اْلأَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ ! وَعَـلَى خُلَفَآئِهِ رُوَّاةِ أَحَادِيْثِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ ! وَعَـلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ !

Ketahuilah, bahwasannya didalam kitab ini memuat beberapa bagian dari Hadits-hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang keutamaan Al-Qur'an. Sengaja dipilihkan dari kitab-kitab yang telah dipercaya oleh kebanyakan Ulama, sebab para pengarangnya telah mempunyai keistimewaan dan keahlian dalam bidang ilmu Hadits, yaitu:

1- Shahih Al-Bukhari oleh (Muhammad Isma'l Al-Bukhari)

2- Shahih Muslim oleh (Muslim bin Al-hajjaj Al-Naisaburi)

3- Al-Jami'u Al-Shoghir oleh ('Abdul Rahman Al-Suyuthi)

4- Al-Itqon oleh ('Abdul Rahman Al-Suyuthi)

5- Al-Targhib oleh ('Abdul 'Adhim Al-Mundziri)

6- Al-Tibyan oleh (Yahya bin Syarof Al-Nawawi)

7- Fathul Bari oleh (Ahmad bin 'Ali Al-'Asqolani)

8- As-Siroj Al-Munir oleh ('Ali bin Ahmad Al-'Azizi)

Kitab ini diurutkan menurut tiga fasal dan khotimah. Semoga Allah SWT menjadikan kitab ini sebuah kitab yang penuh barokah serta bermanfaat bagi seluruh pembacanya. Amin Ya Robbal 'Alamin.

 

Keistimewaan Al-Qur'an

1- "مَا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلاَّ أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِيْ أُوْتِيْتُ وَحْـيًا أَوْحَاهُ اللهُ إِلَيَّ فَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ" رواه البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه

1- "Tiada seorang Nabi dari golongan para Nabi kecuali telah diberi tanda-tanda bukti yang sesuai dengan tanda-tanda bukti ini, orang-orang mau beriman karena dengan adanya tanda-tanda bukti tadi, dan sesungguhnya aku telah diberi wahyu oleh Allah, maka aku berharap agar aku yang lebih banyak pengikutnya besuk dihari kiyamat ".

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan bahwa para Nabi diberi keistimewaan dan keutamaan untuk menguatkan serta menetapkan kenabian dan kerasulannya, yaitu yang berupa mu’jizat (perkara yang berbeda dengan kebiasaan) yang sesuai dan pas dengan zamannya, seperti berobahnya tongkat nabi Musa AS menjadi ular yang sangat besar, sebab yang digunakan untuk bertanding pada zaman nabi Musa AS adalah berupa sihir. Maka nabi Musa AS datang dengan membawa sesuatu mu’jizat yang menyerupai sihir. Zaman nabi Isa AS yang digunakan untuk bertanding adalah berupa ilmu kedokteran, makanya nabi Isa AS datang dengan membawa sesuatu perkara yang lebih unggul daripada ilmu kedokteran, yaitu bisa menghidupkan orang mati. Zaman nabi Muhammad SAW yang digunakan untuk bertanding adalah ilmu sastra bahasa, maka nabi Muhammad SAW datang dengan membawa Al-Qur’an yang bisa mengalahkan sastra bahasanya orang arab pada zaman tersebut. Mu’jizat nabi Muhammad SAW yang berupa Al-Qur’an itu lebih unggul daripada mu’jizatnya para nabi-nabi terdahulu, sebab mu’jizatnya para nabi terdahulu bisa hilang dengan meninggalnya para nabi. Sedangkan mu’jizatnya nabi Muhammad SAW yang berupa Al-Qur’an itu tidak akan ada habisnya. Setiap waktu akan selalu jelas kelihatan dengan apa yang telah disebutkan didalam Al-Qur’an.

2- "إِنَّ جِبْرِيْلَ يُعَارِضُنِيْ بِالْقُرْآنِ كُلَّ سَنَةٍ وَإِنَّهُ عَارَضَنِي الْعَامَ مَرَّتَيْنِ وَلاَ أُرَاهُ إِلاَّ حَضَرَ أَجَلِيْ" رواه البخاري عن فاطمة رضي الله عنها

2- "Sesungguhnya Jibril setiap tahun menyodorkan Al-Qur'an (saling simak- menyimak) dengan aku, dan sesungguhnya Jibril pada tahun ini menyodorkan Al-Qur'an kepadaku dua kali, dan aku tidak menyangka demikian kecuali sudah dekat akan ajalku ".

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tentang malaikat Jibril AS mu'arodloh (saling simak-menyimak) Al-Qur'an dengan Rasululloh SAW. Yang dimaksud dengan mu'arodloh adalah membaca Al-Qur'an secara bergantian, salah satu membaca yang satunya lagi mendengarkan begitu seterusnya. Malaikat Jibril AS melakukan mu'arodloh Al-Qur'an setiap tahun pada bulan Ramadlan tujuannya untuk mencocokan Al-Qur'an yang sudah diturunkan. Hanya saja pada tahun terakhir malaikat Jibril AS melakukan mu'arodloh sampai dua kali tidak seperti tahun-tahun yang telah lalu. Pada saat itu Rasululloh SAW sudah merasa dan menyangka bahwasannya waktu ajalnya sudah dekat, kenyataannya juga demikian. Sebab setelah jarak enam bulan yaitu pada bulan Robi'ul Awwal kemudian Rasululloh SAW wafat. Maksud dari Hadits ini adalah memberi contoh kepada para umat agar supaya memperhatikan dan bersungguh-sungguh didalam membaca Al-Qu'an pada bulan Ramadlan. Apalagi bagi mereka yang hafal Al-Qur'an sangat bagus sekali untuk membaca Al-Qur'an secara mu'arodloh agar supaya apabila ada ayat yang terlupakan atau terlewatkan bisa segera diingatkan oleh temannya.. Malaikat Jibril AS melakukan mu'arodloh Al-Qur'an dilakukan pada bulan Ramadlan, karena beribadah pada bulan Ramadlan pahalanya melebihi pahalanya ibadah yang dilakukan pada selain bulan Ramadlan. Disamping itu untuk memperingati turunnya Al-Qur'an, baik turunnya dari (Lauh Mahfudz) secara sekaligus ke langit (Baitul 'Izzah) atau turunnya dari Baitul 'Izzah kepada Rasululloh SAW di gua (Hira’) yang diawali dengan ayat :

"اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ"

dengan istrinya juga didalam bulan Ramadlan. Sedangkan Al-Qur'an yang sudah dikumpulkan oleh sahabat 'Utsman bin 'Affan Ra seperti yang sudah tersebar luas sekarang ini, adalah Al-Qur'an yang sesuai dengan bacaannya malaikat Jibril AS yang terakhir. Ini menurut pendapat imam Ahmad bin Hambal dan imam Hakim RA.

3- "لَمْ يَأْذَنِ اللهُ لِنَبِيٍّ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ" رواه البخـاري عن أبي هريرة رضي الله عنه

3- "Allah tidak mendengarkan dan ridlo terhadap seorang Nabi seperti mendengarkannya dan ridlo terhadap seorang Nabi yang sedang membaca Al-Qur'an dengan suara yang bagus dan menyentuh hati ".

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan :

(1) Betapa mulianya Al-Qur'an disisi Allah SWT sehingga Allah SWT saja mau memperhatikan, mendengarkan dan ridlo terhadap seorang hamba yang membaca Al-Qur'an. Sedangkan yang dimaksud Al-Qur'an disini adalah semua kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi, termasuk kitab Zabur, kitab Taurot, kitab Injil, dan kitab Al-Qur'an.

(2) Merangakan tata cara membaca Al-Qur'an, yaitu dengan suara yang bagus dan bacaan yang sesuai dengan batasan-batasan/kaidah-kaidah ilmu Al-Qur'an disertai dengan meresapi isi kandungannya. Demikian ini menurut imam Syafi'i RA dan kebanyakan Ulama. Sedang apabila membaca Al-Qur'an dengan lagu-lagu sehingga keluar dari batasan-batasan/kaidah-kaidah ilmu qiroat maka hukumnya harom secara ijma' (menurut kesepakatan para ulama).

4- "بِئْسَـمَا لأَحَدِهِمْ يَقُوْلُ نَسِيْتُ آيَةَ كَيْتَ كَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ اسْتَذْكِرُوْا الْقُرْآنَ فَلَهُوَ أشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُوْرِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ بِعُقُلِهَا" رواه البخاري ومسلم عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه

4- "Alangkah jeleknya bagi seorang yang mengucapkan; Aku lupa akan ayat begini-begini. Akan tetapi dia telah dilupakan. Ingat-ingatlah kalian kepada Al-Qur'an, maka sesungguhnya Al-Qur'an itu lebih mudah terlepas dari hati seseorang daripada onta tali pengikatnya".

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan :

(1) Adabnya orang yang hafal Al-Qur'an ketika terlupakan/kelupaan yaitu jangan sampai mengucapkan; Aku lupa akan ayat demikian. Akan tetapi ucapkan ; Aku telah dilupakan. Sebab kata-kata (aku lupa) itu mempunyai maqsud bahwa lupa itu pekerjaannya sendiri. Padahal semua pekerjaan hamba itu dari Allah SWT. Maka dari itu seyogiyanya mengucapkan (terlupakan/kelupaan) yang mempunyai maqsud bahwa yang membuat lupa itu Allah SWT.

(2) Mendorong kepada setiap orang yang hafal Al-Qur'an atau hafal surat Al-Qur'an agar rajin dan sering membaca Al-Qur'an, berusaha agar jangan sampai lupa. Sebab Al-Qur'an itu lebih mudah hilang dan terlepas dari hatinya seorang yang hafal Al-Qur'an daripada berontaknya onta dari tali pengikatnya. Begitu juga seorang yang sudah hafal Al-Qur'an jika tidak berusaha rajin dan sering membaca Al-Qur'an akan sangat mudah lupa. Sebab Al-Qur'an adalah ucapannya Allah, dan Allah bersifat qodim (dzat yang mendahului), sedangkan manusia bersifat hadits (dzat yang baru), seandainya tidak ada fadlol/anugerah dari Allah ta'ala untuk para hambanya yang hafal Al-Qur'an, niscaya semua manusia lemah tidak berdaya dan tidak mungkin kuat untuk menghafalkan Al-Qur'an serta memasukkan Al-Qur'an didalam hatinya.

5- "إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُـمْ أَنْ يُحَدِّثَ رَبَّهُ فَلْيَقْرَأِ الْقُـرْآنَ" رواه الخطيب والديلمي عن أنس رضي الله عنه

5- "Ketika salah satu dari kalian suka akan berbincang-bincang dengan tuhannya, maka bacalah Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tentang adab membaca Al-Qur'an yaitu dengan bacaan yang khusyu' serta perasaan yang tunduk sehingga hatinya bisa hadlir menghadap kepada Allah seraya berbincang-bincang dengan Allah yang Maha agung dan Maha Kuasa serta Maha pemurah, sehingga bisa merasuk dan menyentuh kedalam hati sanubari. Yang demikian ini tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan mengetahui ma’na dan kandungan ayat yang dibaca, seperti yang telah disebutkan dalam Hadits riwayat Bukhari Muslim dari 'Abdulloh bin Mas'ud yang maqsudnya demikian "Rasulullah berkata kepadaku; Bacalah Al-Qur`an untukku. Kemudian aku menjawab; Ya RosulAllah, bagaimana aku membcakan Al-Qur`an untukmu, padahal yang dituruni Al-Qur`an adalah engkau? Rasulullah berkata; Sesungguhnya aku suka mendangarkan Al-Qur`an dari orang lain. Kemudian aku membaca surat Al-Nisa` sampai ayat ;

"فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيْدًا"

Kemudian Rasulullah mengatakan; Sudah cukup. Kemudian aku menoleh kepada Rasulullah, tiba-tiba aku lihat kedua mata Rasulullah menitikkan air mata (menangis).

6- "أَطِيْعُوْنِيْ مَا كُنْتُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ وَعَلَيْكُمْ بِكِتَابِ اللهِ أَحِلُّوْا حَلاَلَهُ وَحَرِّمُوْا حَرَامَهُ" رواه الطبراني عن عوف بن مالك رضي الله عنه

6- "Taatlah kalian kepadaku selama aku masih berada di tengah-tengah kalian. Dan berpegang teguhlah kalian dengan kitab Allah (Al-Qur'an) halalkan apa yang telah dihalalkan oleh Al-Qur'an dan haramkam apa yang telah diharamkan oleh Al-Qur'an".

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan :

(1) Wajibnya ittiba' meniru tingkah laku/akhlaq Rasulullah SAW selama beliau Rasulullah SAW masih hidup serta menjalankan hadits-haditsnya sesudah beliau wafat, sebab tingkah laku/akhlaq Rasulullah SAW itu tidak menyalahi/keluar dari aturan Al-Qur'an seperti yang sudah pernah dikatakan oleh Siti 'Aisyah RA ; Budi pakerti/akhlaq Rasulullah adalah Al-Qur'an. Dan lagi Rasulullah SAW lebih mengetahui akan isi dan maqsud dari Al-Qur'an, apalagi beliau oleh Allah telah diberi wewenang agar beliau menjelaskan isi dan maqsud dari Al-Qur'an seperti yang telah disebutkan dalam ayat ;

"وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ"

"Aku (Allah) telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) agar kamu menjelaskan kepada semua orang apa-apa yang telah diturunkan kepada para manusia"

(2) Menerangkan wajibnya tunduk terhadap Al-Qur'an dengan menjalankan isi-isi dari Al-Qur'an. Mana yang diperintahkan dilaksanakan, dan mana yang yang dilarang dijauhi. Sebab isi Al-Qur'an semuanya haq dan benar tidak ada yang keliru dan sesat. Ingatlah bahwa Al-Qur'an itu yang menyusun adalah Allah yang Maha agung dzat yang menciptakan manusia. Dzat yang tinggi ilmunya serta sempurna kebijaksanaannya. Lebih mengetahui mana yang maslahat dan mana yang berbahaya terhadap hambanya. Maka dari itu setiap perkara yang telah diperintahkan oleh Al-Qur'an pasti ada manfa'at dan gunanya. Dan setiap perkara yang telah dilarang oleh Al-Qur'an pasti ada bahayanya, baik seorang hamba tahu ataupun tidak tahu. Demikian ini telah dijelaskan dalam kitab Al-Burhan 'ala Wahyi Al-Quran.

7- "اُعْبُدِ اللهَ وَلاَتُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا وَزُلْ مَعَ الْقُرْآنِ أَيْنَمَا زَالَ وَاقْبِلِ الْحَقَّ مِمَّنْ جَاءَ بِهِ مِنْ صَغِيْرٍ أَوْكَبِيْرٍ وَإِنْ كَانَ بَغِيْضًا بَعِيْدًا. وَارْدُدِ الْبَاطِلَ عَلَى مَنْ جَاءَ بِهِ مِنْ صَغِيْرٍ أَوْكَبِيْرٍ وَإِنْ كَانَ حَبِيْبًا قَرِيْبًا" رواه ابن عساكر عن ابن مسعود رضي الله عنه

7- "Berbaktilah kepada Allah serta jangan mempersekutukannya dengan apa saja, berlakulah disertai Al-Qur'an dimana saja berada, dan terimalah kebenaran dari orang yang membawa kebenaran, dari seorang anak kecil maupun besar meskipun orang tersebut sangat dibenci dan jauh, dan tolaklah perkara yang salah terhadap orang yang membawa perkara tersebut meskipun orang itu seorang kekasih dan dekat "

Keterangan ;

Hadits iki menerangkan

(1) Wajibnya bertauhid kepada Allah. Demikian ini sudah semestinya, sebab Allah SWT mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan suci, bersih, serta sepi dari sifat-sifat yang tercela.

(2) Wajibnya mengikuti dan tunduk terhadap aturan-aturan Al-Qur'an. Sebab Al-Qur'an itu sepi dari hal-hal yang sesat dan menyesatkan.

(3) Wajibnya menerima kebenaran dari mana saja datangnya, tanpa memandang orang yang membawa kebenaran, baik anak kecil atau dewasa, seorang yang hina atau seorang yang berpangkat, meskipun orang tersebut bukan apa-apanya (orang lain) dan sangat dibenci serta berbeda suku bangsa.

(4) Wajibnya menolak perkara yang salah dari mana saja datangnya, tanpa memandang orang yang membawa perkara tersebut. Baik anak kecil atau dewasa, seorang yang hina atau seorang yang berpangkat, meskipun orang itu menjadi kekasihnya atau masih sanak familinya. Maka Fudloil bin 'Iyadl mengatakan (Bertindaklah pada jalan kebenaran, dan jangan terhalang oleh sedikitnya orang yang melakukan kebenaran itu. Dan jauhilah jalan sesat, dan jangan sampai terkecoh oleh kesibukannya orang yang terjerumus dijalan tersebut.

8- "أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَالْتَمِسُوْا غَرَائِبَهُ" رواه ابن أبي شيبة والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة رضي الله عنه

8- "Ketahuilah kalimat-kalimat Al-Qur'an, dan carilah hukum-hukum Al-Qur'an dan isyarat-isyarat Al-Qur'an yang lembut-lembut serta yang samar-samar"

Keterangan ;

Hadits ini mendorong untuk mencari tahu ma'na kalimat Al-Qur'an sehingga bisa jelas apa yang dikehendaki Al-Qur'an. Juga mendorong untuk meneliti isyarat-isyarat kalimat Al-Qur'an yang tersimpan didalam kalimat tersebut yang butuh diperhatikan dan dicermati dengan pikiran yang dalam serta hati yang jernih.

9- "أَعْطُـوْا أَعْيُنَكُمْ حَظَّهَا مِنَ الْعِبَادَةِ النَّظَرُ فِي الْمُصْحَفِ وَالتَّفَكُّرُ فِيْهِ وَالاِعْتِبَارُ عِنْدَ هِجَائِيْهِ" رواه الحكيم والبيهقي عن أبي سعيد رضي الله عنه

9- "Berilah penglihatanmu bagian dari ibadah yaitu melihat tulisan Al-Qur'an dan berfikir tentang Al-Qur'an serta mengambil pelajaran dari apa-apa yang mengherankan dalam Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan :

(1) Keutamaan membaca Al-Qur'an dengan melihat tulisan Al-Qur'an. Sebab membaca Al-Qur'an dengan demikian ini biasanya lebih mudah untuk memperhatikan maksudnya ayat daripada membaca Al-Qur'an dengan cara hafalan. Namun jika untuk memperhatikan maksud ayat tersebut mudahnya dengan cara membaca secara hafalan, maka lebih utama membaca secara hafalan, sebab membaca Al-Qur'an yang utama adalah membaca disertai dengan mengerti akan maksud ayat yang dibaca.

(2) Mendorong seorang yang membaca Al-Qur'an agar supaya berpikir serta mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang mengherankan yang ada didalam Al-Qur'an, seperti contoh bagaimana akibatnya orang yang ta'at kepada para utusan, menjalankan kebenaran, menghindari tindakan tercela, dan bagaimana akibat orang yang menentang para rasul, makin menjadi-jadi dalam melakukan tindakan tercela, semakin nekat menolak kebenaran. Dan seperti contoh seberapa besar kekuasaan Allah yang Maha agung, seberapa luas rahmatnya Allah yang Maha Pengasih, serta apa saja hikmah-hikmah dan budi luhur yang di sebutkan dalam Al-Qur'an. Dan seperti contoh hikmah-hikmah yang ada disegala perintah Allah, serta yang ada disegala larangan Allah yang Maha Bijaksana. Dan juga seperti bagus dan indahnya susunan kata-kata yang ada dalam Al-Qur'an sehingga bisa mengalahkan para ahli sastranya bangsa Arab sehingga mereka tidak mampu membuat satu suratpun.

10- "إِقْرَأِ الْقُرْآنَ عَـلَى كُلِّ حَالٍ إِلاَّ وَأَنْتَ جُنُبٌ" رواه أبو الحسن بن صخر عن علي رضي الله عنه

10- "Bacalah Al-Qur'an dalam segala hal kecuali engkau sedang junub"

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan bahwa semua waktu itu boleh digunakan untuk membaca Al-Qur'an, dalam keadaan apa saja, sedang duduk, berdiri, sambil jalan-jalan dan tiduran, terkecuali sedang dalam keadaan junub maka haram hukumnya membaca Al-Qur’an dengan sengaja membaca Al-Qur'an. Namun jika diniati dzikir maka tidak haram seperti sedang terkena musibah kemudian mengucapkan ;

إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Yang dimaksud dengan junub adalah mengeluarkan mani dengan disengaja maupun tidak atau berhubungan suami istri (bersetubuh/jimak)sebelum mandi wajib.

11- "لاَيَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ" رواه أحمد والترمـذي

وابن ماجه عن ابن عمر رضي الله عنهما

11- “Orang yang sedang junub dan orang yang sedang haid jangan membaca sedikitpun dari Al-Qur’an”

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan tentang orang yang diharamkan membaca Al-Qur’an meskipun Cuma sedikit, yaitu orang yang sedang mengalami junub dengan cara mengeluarkan mani atau jimak bagi laki-laki atau perempuan serta seorang perempuan yang sedang haid. Begitu juga seorang perempuan yang sedang mengalami nifas.

12- "اِقْرَأِ الْقُرْآنَ فِيْ كُلِّ شَهْرٍ, اِقْرَأْهُ فِيْ عِشْرِيْنَ لَيْلَةً, اِقْرَأْهُ فِيْ عَشْرٍ, اِقْرَأْهُ فِيْ سَبْعٍ وَلاَتَزِدْ عَلَى ذَلِكَ" رواه البخاري ومسلم وأبو داود عن ابن عمر رضي الله عنهما

12- “Bacalah Al-Qur’an dalam waktu satu bulan, bacalah Al-Qur’an dalam waktu duapuluh malam, bacalah Al-Qur’an dalam waktu sepuluh, bacalah Al-Qur’an dalam waktu tujuh, dan jangan menambahkan diatas jumlah sekian ini”

13- "اِقْرَأِ الْقُرْآنَ فِيْ أَرْبَعِيْنَ" رواه الترمذي عن ابن عمرو بن العاص رضي الله عنهما

13- “Bacalah Al-Qur’an dalam waku 40 (empatpuluh hari)”

14- "اِقْرَأِ الْقُرْآنَ فِيْ ثَلاَثٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ" رواه أحمد والطبراني عن سعد بن المنذر رضي الله عنه

14- “Bacalah Al-Qur’an dalam waktu 3 (tiga hari) jika kamu mampu”

Keterangan ;

Hadits-hadits ini menjelaskan tentang perbedaan tingkah keadaan dan kesempatan orang yang membaca Al-Qur’an. Sebagian orang bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu 40 (empat puluh) hari, karena waktunya masih diselingi dengan bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, belajar-mengajar, mengarang buku-buku yang bermanfaat, serta berhubungan dengan masyarakat dan sanak saudara. Sebagian lagi dad yang bisa mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu satu bulan. Ada lagi yang bisa mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu sepuluh hari atau tujuh hari. Ini banyak sekali yang bisa menjalankannya. Sehingga ada yang bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu 3 (tiga hari). Bahkan menurut imam Ahmad bin Hanbal hukumnya makruh mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam waktu lebih dari 40 (empat puluh hari). Maka dari itu seyogyanya jangan sampai setiap 40 (empat puluh hari) sekali tidak mengkhatamkan Al-Qur’an.

15- "لاَيَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِيْ أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ" رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه عن ابن عمرو بن العاص رضي الله عنهما

15- “Tidak akan mengerti orang yang membaca Al-Qur'an dalam waktu lebih sedikit (kurang) dari tiga hari”

Keterangan :

Hadits ini menjelaskan; Barang siapa membaca Al-Qur’an mulai dari awal sampai khatam ditempuh hanya dalam waktu kurang dari tiga hari biasanya tidak akan bisa mengetahui serta meresapi maksud ayat-ayat yang dibacanya, dan lagi bacaannya tidak jelas/tartil sebab bacaannya cepat sekali. Jadi utama dan baiknya adalah membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang jelas/tartil agar memperhatikan dan meresapi maksud ayat-ayat yang dibaca. Cara membacanya jangan sampai serampangan hanya memburu cepat khatam.

16- "اِقْرَأِ الْقُرْآنَ مَا نَهَاكَ فَإِذَا لَمْ يَنْهَكَ فَلَسْتَ تَقْرُؤُهُ" رواه الدليميّ عن ابن عمرو بن العاص رضي الله عنهما

16- “Bacalah Al-Qur’an selama Al-Qur’an telah mencegahmu, maka ketika Al-Qur’an belum mencegahmu berarti kamu belum membaca Al-Qur’an”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tujuan membaca Al-Qur’an yaitu karena ingin mengetahui maksud ayat yang dibaca yang kemudian bisa menarik untuk mengerjakan apa-apa yang diperintahkan serta menghindar dari apa yang telah dilarang. Jadi jika dalam membaca Al-Qur’an tadi belum bisa menarik untuk mengerjakan isi-isi Al-Qur’an, maka sama dengan belum membaca Al-Qur’an dengan semestinya.

17- "اِقْرَؤُا الْقُرْآنَ بِالْحَزَنِ فَإِنَّهُ يَنْزِلُ بِالْحَزَنِ" رواه أبو يعلى والطبراني وأبو نُعَيم عن بريدة رضي الله عنه

17- “Bacalah Al-Qur’an dengan hati khusyu’ serta perasaan sedih/haru, maka sesungguhnya Al-Qur’an itu turunnya dengan perasaan sedih”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tata cara membaca Al-Qur’an, yaitu dengan suara yang sedih, haru dan menyentuh hati seperti ketika turunnya dari malaikat Jibril AS juga demikian. Jadi yang dikehendaki hadits ini bukan membaca Al-Qur’an dengan menggunakan lagu-lagu yang tidak ada rasa sedih, haru serta menyentuh hati seperti yang di lakukan oleh kebanyakan pembaca Al-Qur’an pada zaman sekarang ini. Demikian ini adalah perkara yang tercela, sebab membaca Al-Qur’an berarti menghadap kepada Allah yang Maha Agung. Maka dari itu tidak pantas kecuali dengan perasaan mengagungkan, sedih, haru, takut karena besarnya wibawa Allah yang Maha Agung dan mulia. Demikian ini menurut pendapat Syaikh Munawi dan lain-lain.

18- "اِقْرَؤُا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوْبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ فَقُوْمُوْا عَنْهُ" رواه أحمد والبخاريّ ومسلم والنسائي عن جندب رضي الله عنه

18- "Bacalah Al-Qur'an selama jantung hatimu masih menyatu dengan Al-Qur'an, maka tatkala kalian sudah merasa gelisah berhentilah "

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan adab tata cara membaca Al-Qur'an, yaitu membacanya dengan hati yang hudlur serta memikirkan/menghayati ayat yang dibacanya, berhati-hati dan meneliti bacaan Al-Qur'an, merasa berhadapan dengan Allah yang Maha Agung. Jika hati sudah tidak bisa hudlur lagi atau mengingat-ingat sesuatu selain Al-Qur'an, maka seyogyanya berhenti dahulu untuk mengistirahatkan hati, sebab membaca Al-Qur'an dengan hati yang tidak hudlur sedikit manfaatnya.

19- "اِقْرَؤُا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ" رواه مسلم عن أبي أمامة رضي الله عنه

19- "Bacalah Al-Qur'an, maka sesungguhnya Al-Qur'an akan datang besuk pada hari kiyamat untuk memberi pertolongan kepada orang yang membaca Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan bahwa Al-Qur'an besuk pada hari kiamat akan memberi syafa’at kepada orang yang suka membaca Al-Qur'an, artinya mengantarkannya untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar Allah SWT melindungi orang yang suka membaca Al-Qur'an, padahal syafa'at Al-Qur'an itu pasti diterima oleh Allah SWT seperti yang telah dikatakan dalam hadits :

"اَلْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ"

"Al-Qur'an adalah pemberi syafa’at yang mana syafa’atnya pasti akan diterima oleh Allah "

Maka tidak aneh jika Al-Qur'an besuk di hari kiamat akan diserupakan dengan rupa yang bagus serta elok yang bisa dilihat oleh para manusia.وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ( Allah adalah dzat yang Maha Kuasa atas segala-galanya).

20- "اِقْرَؤُا الْقُـرْآنَ وَاعْمَلُوْا بِهِ وَلاَتَجْفُوْا عَنْهُ وَلاَتَغْلُوْا فِيْهِ وَلاَتَـأْكُلُوْا بِهِ وَلاَتَسْتَكْثِرُوْا بِهِ" رواه أحمـد وأبو يعلى والطـبراني والبيهقي عن

عبد الرحمن بن شبل رضي الله عنه

20- "Bacalah Al-Qur'an, dan bertindaklah dengan Al-Qur'an, dan jangan menjauh dari Al-Qur'an, dan jangan melampaui batas di dalam masalah Al-Qur'an, dan jangan makan dengan Al-Qur'an, dan jangan memperbanyak dengan Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan lima perkara :

(1) Mendorong untuk selalu membaca Al-Qur'an seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang lalu, berusaha jangan sampai setiap 40 (empat puluh hari) sekali tidak khatam Al-Qur'an.

(2) Inti pokok membaca Al-Qur'an adalah mau melaksanakan isi-isi Al-Qur'an. Jadi kesimpulan hadits ini menyuruh untuk mempelajari tafsir.

(3) Mencegah dari perbuatan sembrono/teledor dan malas membaca Al-Qur'an.

(4) Mencegah dari perbuatan melampaui batas di dalam membaca dan mengulang-ulang Al-Qur'an. Diusahakan jangan sampai dalam membaca dan mengulang-ulang Al-Qur'an menarik kepada perasaan bosan membaca, sebab amal yang utama adalah yang dikerjakan secara kontinyu/istiqomah meskipun Cuma sedikit.

(5) Mencegah dari membaca Al-Qur'an hanya karena untuk tujuan mencari harta benda, apalagi untuk alat memperbanyak harta benda. Sedangkan bagi seorang pengajar Al-Qur'an dengan janji upah yang sudah ditentukan maka hukumnya boleh seperti yang disebutkan dalam haditsnya Abu Sa'id Al-Khudriy yang akan datang.

21- "اِقْرَؤُا الْقُرْآنَ فَإِنَ اللهَ تَعَالَى لاَيُعَذِّبُ قَلْبًا وَعَى الْقُرْآنَ" رواه تَـمّام

عن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه

21- "Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa hati yang memuat/menghafalkan Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits ini mendorong agar mau menghafalkan Al-Qur'an, sebab hati yang hafal Al-Qur'an ditambah lagi bisa menjalankan isi-isi Al-Qur’an tidak akan disiksa oleh Allah. Sedang bagi orang yang hafal kalimat-kalimat Al-Qur’an akan tetapi dia tidak menjalankan isi-isi Al-Qur’an, dia bukan atau tidak dinamakan sebagai orang yang memuat Al-Qur’an.

22- "أَكْثِرُوْا مِنْ تِـلاَوَةِ الْقُرْآنِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِيْ لاَيُقْرَأُ فِيْهِ الْقُرْآنُ يَقِلُّ خَيْرُهُ وَيَكْثُرُ شَرُّهُ وَيُضَيَّقُ عَـلَى أَهْلِهِ" رواه الدارقطني عن أنس وجابر رضي الله عنهما

22- "Perbanyaklah dari membaca Al-Qur'an didalam rumahmu, maka sesungguhnya rumah yang tidak digunakan untuk membaca Al-Qur’an itu sedikit kebaikannya dan banyak kejelekannya serta akan disempitkan penghuni rumahnya "

Keterangan ;

Hadits ini mendorong agar sebuah rumah itu jangan sampai sepi dari bacaan Al-Qur’an supaya rumah tersebut didatangi para Malaikat yang menjadikan sebab banyaknya kebaikan dan barokah. Dan orang yang menempati rumah tersebut diberi ketentraman hidupnya, diberi kecukupan rizki yang halal serta manfa’at, baik berupa ilmu yang manfaat atau kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan rumah yang sama sekali tidak pernah digunakan untuk membaca Al-Qur’an akan timbul banyak kejelekan, sebab didatangi para syaitan. Orang-orang yang menempatinya akan mengalami kesempitan dari rizqi yang halal dan manfa’at serta tidak ada ketentraman dalam hidupnya.

23- "إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ الصَّمْتَ عِنْدَ ثَلاَثٍ : عِنْدَ تِلاَوَةِ الْقُرْآنِ وَعِنْدَ الزَّحْفِ وَعِنْدَ الْجِنَازَةِ" رواه الطبراني عن زيد بن أرقم رضي الله عنه

23- "Sesungguhnya Allah ta'ala itu suka diam ditiga waktu: Ketika Al-Qur'an dibaca, ketika bertempur melawan musuh/ pertempuran sedang berkecamuk, dan ketika merawat jenazah "

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan sunatnya diam didalam salah satu tiga waktu, yaitu :

(1) Disaat Al-Qur'an sedang dibaca karena untuk meresapi serta menghayati ma’na yang terkandung didalam ayat yang dibaca. Ini seperti diamnya orang yang hadlir jum’at karena untuk mendengarkan dan memperhatikan khutbahnya seorang khotib. Sunatnya atau wajibnya harus diam dan memperhatikan, jangan melakukan dzikir lisan atau membaca Al-Qur'an. Demikian ini menurut kesepakatannya para ulama. Jadi yang dilakukan sebagian golongan zaman sekarang, yaitu mereka melakukan dzikir lisan seperti mengucapkan (Allah-Allah) sementara Al-Qur'an sedang dibaca adalah menyalahi hadits ini. Oleh karena itu utamanya jika Al-Qur’an sedang dibaca lisannya diam dari dzikir serta tenang anggauta badannya dengan meresapi dan menghayati ma’na yang terkandung dalam Al-Qur'an dengan yang khusyu’, hatinya merasa bahwa dia sedang mendengarkan ucapan-ucapan/kalam Allah yang Maha agung serta Maha mengetahui segala gerak-geriknya semua hamba.

(2) Disaat perang sedang berkecamuk (perang sabilillah).

(3) Disaat merawat jenazah (mayyit) yaitu memandikan, membukus atau mengkafani, memikulnya untuk dibawa kekuburan. Jadi utamanya mereka diam dengan memikirkan mati agar bisa menambah amal saleh dan mengurangi perbuatan ma’siat.

24- "إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يُقْرَأَ الْقُرْآنُ كَـمَا أُنْزِلَ" رواه السجزيّ عن زيد بن ثابت رضي الله عنه

24- "Sesungguhnya Allah ta'ala senang jika Al-Qur'an itu dibaca seperti ketika diturunkannya "

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan tata cara membaca Al-Qur'an yaitu agar dibaca seperti ketika Malaikat Jibril AS membacakan Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW. Demikian ini tidak cukup hanya belajar kitab-kitab tajwaid saja tanpa berguru kepada guru yang mengerti tentang ilmu qiro'ah yang semestinya. Sebab kitab tajwid itu sifatnya hanya pengantar saja. Sedangkan untuk lebih sempurnanya harus berguru kepada seorang guru yang ahli dan mengerti dalam bidang qiroat yang sudah belajar serta menerima qiroat dari guru-gurunya sampai keatas sehingga bersambung sampai kepada sahabat yang menerima bacaan Al-Qur'an secara langsung dari Rasulullah SAW. Sebab batasan-batasan ilmu tajwaid tepatnya harus mendengar atau melihat dari bacaan guru serta geak-geriknya lisan, seperti ukuran mad thobi'I, mad wajib, mad jaiz, ukuran ghunnah, imalah, isymam, idhar, ikhfa', serta makhroj-makhrojnya huruf.

25- "إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ" رواه مسلم وابن ماجه عن عمر رضي الله عنه

25- "Sesungguhnya Allah ta'ala mengangkat dengan kitab ini (Al-Qur'an) suatu golongan manusia, dan menjatuhkan/ merendahkan suatu golongan yang lain"

Keterangan ;

Hadits iki nerangake yen Al-Qur'an iku biso junjung derajate sak golongane manungso, yoiku kang podho iman marang Al-Qur'an, lan podho biso nglakoni isine Al-Qur'an Wekasane biso dadi wong kang mulyo budine lan nemu kabegjan ing dunyo lan akhirate. Al-Qur'an ugo biso ngasorake derajate sak golongane manungso, yoiku kang podo maido marang Al-Qur'an, ora podho nglakoni isine Al-Qur'an. Wekasane biso dadi wong kang asor budine lan nemu sasar ing dunyo lan akhirate.

26- "إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ" رواه البخاري عن ابن عباس رضي الله عنه

26- "sesungguhnya sesuatu barang yang lebih berhak untuk kamu menerima upah adalah kitabnya Allah (Al-Qur'an)"

27- "اِنْطَلَقَ نَفَـرٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفْرَةٍ سَافَرُوْهَا حَتَّى نَزَلُوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْئٍ لاَيَنْفَعُهُ شَيْئٌ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِيْنَ نَزَلُوْا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْئٌ. فَأَتَوْهُمْ. فَقَالُوْا يَاأَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَـا لُدِغَ وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْئٍ لاَيَنْفَعُهُ. فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْئٍ ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ وَاللهِ إِنِّيْ لأَرْقِيْ, وَلَكِنْ وَاللهِ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوْا لَنَا جُعْلاً. فَصَالَحُوْهُمْ عَلَى قَطِيْعٍ مِنَ الْغَنَمِ. فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. فَكَأَنَّـمَا نَشِطَ مِنْ عِقَالٍ. فَانْطَلَقَ يَمْشِيْ وَمَـا بِهِ قَلَبَةٌ. قَالَ فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِيْ صَالَحُوْهُمْ عَلَيْهِ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ اِقْسِمُوْا. فَقَالَ الَّذِيْ رَقَى لاَتَفْعَلُوْا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِيْ كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرَنَا. فَقَدِمُوْا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوْا لَهُ. فَقَالَ وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ؟ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ اِقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِيْ مَعَكُمْ سَهْمًا. فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهٍ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ" رواه البخاري

27- "Kesimpulan hadits ini demikian ; Abu Sa'id Al-Kuidriy RA melakukan perjalanan bersama-sama para sahabatnya sehingga mereka singgah disebuah desa, kemudian mereka bertamu kepada peduduk desa tersebut dan meminta hidangan karena terpaksa, namun para penduduk desa menolaknya. Tiba-tiba pemimpin desanya tersengat kalajengking. Kemudian para anak buahnya berusaha untuk menyembuhkannya akan tetapi tidak berhasil. Salah satu dari penduduk desa mengatakan ; Coba saja kita tanya atau minta tolong kepada orang-orang yang bersinggah itu, kemungkinan mereka bisa menolong untuk menyembuhkannya. Kemudian salah satu penduduk desa meminta pertolongan kepada Abu Sa'id ; Apakah ada yang bisa menyembuhkan ketua kami ? Jawab Abu Sa'id ; Betul ada, saya bisa menyembuhkan. Karena kami minta hidangan namun tidak kalian beri, maka kami tidak mau menyembuhkan sehingga kalian mau memberiku upah. Kemudian mereka bermusyawarah atau tawar menawar dan disetujui untuk memberikan upah (30) tigapuluh ekor kambing. Kemudian Abu Sa'id RA pergi untuk menyembuhkan pemimpin penduduk dengan dibacakan surat Al-Fatihah tujuh kali lalu ditiupkan. Seketika itu pemimpin desa sembuh dari sakitnya seperti terlepas dari jeratan. Pada akhirnya mereka menepati janjinya untuk memberikan upah sebanyak 30 ekor kambing. Ketika para sahabat Abu Sa'id Al-Khudriy akan membagi kambing upahnya, maka Abu Sa'id melarangnya; Jangan dibagi dulu sehingga kita datang menghadap kepada Rasulullah, nanti bagaimana perintah Rasulullah. Setelah mereka menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan apa yang telah dilakukan oleh Abu Sa'id, kemudian Rasulullah mengatakan; Apa yang menyebabkan engkau bisa tahu bahwa Al-Fatihah itu bisa jadi obat ? Jawab Abu Sa'id ; Ini hanya kehendak hati saya.kemudian Rasulullahmengatakan ; Kalian sudah benar, maka bagilah kambing kalian dan berilah aku juga satu bagian. Kemudian Rasulullah tertawa"

28- "لَدَغَتِ النَّبِيَّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقْرَبٌ فَدَعَا بِمَـاءٍ وَمِلْحٍ وَجَعَلَ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَقْرَأُ قُلْ يَـاأَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ" رواه الطبراني عن علي رضي الله عنه

28- "Nabi disengat kalajengking lalu Nabi mengambil air garam serta mengusapkannya ketempat yang tersengat kalajengking dan membaca surat Al-Kafirun, surat Al-Falaq,dan surat An-Nas"

Keterangan ;

Hadits-hadits tersebut menjelaskan :

(1) Dalil yang dikemukakan oleh kebanyakan para ulama atas diperbolehkannya menerima upah atau gaji mengajar Al-Qur'an. Sedangkan tingkatan mengajar adakalanya mengajar dengan janji pakai upah yang ditentukan. Semacam ini hukumnya diperbolehkan menurut pendapat yang arjah (lebih unggul). Dan adakalanya mengajar tanpa ada janji pakai upah, hanya saja apabila diberi juga diterima. Semacam ini hukumnya diperbolehkan secara ijma’ (menurut kesepakatannya para ulama). Sebab hal semacam ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah.

(2) Menerangkan tentang cara pengobatan dengan ruqyah (bacaan-bacaan dari Al-Qur'an atau asma-asma Allah) itu bisa menghasilkan kesembuhan dengan izin Allah jika timbul dari orang yang soleh. Cara mengobati penyakit dengan ayat Al-Qur’an adakalanya ditiupkan pada anggauta yang sakit seperti yang dilakukan oleh Abu Sa'id Al-Khudriy. Dan adakalanya diusapkan pada anggauta yang sakit seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Ada lagi dengan cara ditulis dikertas lalu dilebur dengan menggunakan air kemudian airnya diminum seperti yang telah dilakukan oleh 'Abdulloh bin 'Abbas RA. Bisa juga dibaca kemudian di tiupkan pada air lalu diminum.

29- "أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِِسِتٍّ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ اْلإِنْجِيْلُ لِثَلاَثَ عَشْرَةَ مَضَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلََ الزَّبُوْرُ لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ ِلأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ" رواه الطبراني عن واثلة بن الأسقع رضي الله عنه

29- "Kitab-kitab Ibrohim diturunkan pada permulaan malam dari bulan Ramadlan, Taurot diturunkan pada enam yang telah lewat (hari ketujuh) dari bulan Ramadlan, Injil diturunkan pada tiga belas yang telah lewat (hari keempat belas) dari bulan Ramadlan, Zabur diturunkan pada delapan belas yang telah lewat (hari kesembilan belas) dari bulan Ramadlan, Al-Qur'an diturunkan pada duapuluh empat yang telah lewat (hari keduapuluh lima) dari bulan Ramadlan”

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan :

1.      Mulianya bulan Ramadlan, sebab telah dipilih oleh Allah yang Maha bijaksana sebagai waktu diturunkannya kitab-kitab wahyu yang dianugerahkan kepada para utusan.

2.      Menerangkan tanggal-tanggal turunnya kitab-kitab wahyu, yaitu kitab-kitab nabi Ibrohim AS turunnya pada permulaan malam bulan Ramadlan. Taurot kitabnya nabi Musa AS diturunkan pada malam ketujuh dari bulan Ramadlan. Injil kitabnya nabi 'Isa AS diturunkan pada malam keempat belas dari bulan Ramadlan. Zabur kitabnya nabi Dawud AS diturunkan pada malam kesembilan belas dari bulan Ramadlan. Al-Qur'an kitabnya nabi Muhammad SAW diturunkan pada malam keduapuluh lima dari bulan Ramadlan.

Sedangkan terjadinya turunnya Al-Qur'an itu dua waktu atau dua kali atau dua katagori.

Yang pertama turunnya Al-Qur’an tigapuluh juz sekaligus dari (Lauh mahfudz) kelangit dunia pada tempat yang disebut (Baitul 'izzah), ini terjadi pada malam keduapuluh lima dari bulan Ramadlan sebelum nabi Muhammad SAW di angkat menjadi nabi. Inilah yang dimaqsudkan pada ayat:

"إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ"

Yang kedua turunnya Al-Qur’an dari Baitul ‘izzah kepada nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril AS sedikit demi sedikit menurut keadaan dan kebutuhan yang dimulai dengan :

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ _ خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ _ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ _ عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ _

Ini terjadi pada hari Senin tanggal tujuh belas (17) dari bulan Ramadlan didalam gua (Hira’) dalam keadaan terjaga/tidak tidur. Turunnya Al-Qur’an mulai dari awal sampai selesai lamanya duapuluh tiga tahun dengan diakhiri :

"وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُوْنَ"

30- "اَلْبَيْتُ الَّذِيْ يُقْرَأُ فِيْهِ الْقُرْآنُ يَتَرَاءَى ِلأَهْلِ السَّمَاءِ كَما تَتَرَاءَى النُّجُوْمُ ِلأَهْلِ اْلأَرْضِ" رواه البيهقي عن عائشة رضي الله عنها

30- "Rumah yang digunakan untuk membaca Al-Qur'an itu terlihat bersinar oleh penduduk langit (para Malaikat) seperti terlihatnya bintang-bintang dilangit oleh penduduk bumi "

Keterangan :

Hadits ini mendorong untuk sering-sering membaca Al-Qur’an didalam rumahnya .

31- "تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُـمَا كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِىْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَى الْحَوْضِ" رواه الحاكم عن أبي هريرة رضي الله عنه

31- "Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan kesasar setelah berpegangan pada keduanya yaitu kitabnya Allah (Al-Qur'an) dan tingkah lakuku. Kedua perkara tersebut tidak berpisah sehingga sampai pada telaga (Kautsar)"

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan :

(1) Al-Qur'an dan hadits Rasulullah sudah mencukupi dan mengandung tatanan-tatanan yang di butuhkan oleh para manusia selama mereka mengarungi kehidupan didunia sampai akhirat.

(2) Menerangkan bahwa arti dan ma’na Al-Qur'an serta Hadits Rasulullah keduanya tidak akan saling bertolak belakang karena hadits Rasulullah itu sifatnya hanya menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an secara rinci, seperti ukuran waktu sholat lima waktu, bilangan roka'at tiap-tiap sholat ferdlu, seberapa batasan nishob zakat, seper berapakah harta zakat yang wajib dikeluarkan, harta apa saja yang wajib dikeluarkan zakatnya, seberapa batasan anggauta yang wajib dibasuh ketika wudlu, serta bagaimanakah cara manjalankan ibadah haji dan umroh. Semua ini tidak bisa diketahui kacuali dengan mengetahui hadits Rasulullah. Maka dengan keterangan tersebut barang siapa menolak dan tidak mau menerima hadits-hadits Rasulullah hanya mengambil kecukupan dengan Al-Qur'an saja, maka orang tersebut bisa dikatakan murtad imannya rusak sebab dia menolak kewenangan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah untuk menerangkan Al-Qur’an dengan sabdanya :

"وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ"

"Aku turunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) supaya kamu menjelaskan kepada para manusia apa-apa yang sudah diturunkan kepada mereka"

Dan lagi dia menolak apa yang telah dilakukan oleh Allah yang Maha agung serta bijaksana yaitu mengangkat derajat Rasulullah SAW, sehingga barang siapa ta’at terhadap Rasulullah seraya menjalankan perintahnya serta menghindari larangannya berarti dia ta’at kepada Allah. Allah SWT telah bersabda :

"مَنْ يُطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ"

"Barang siapa ta’at kepada Rasulullah, berarti dia ta’at kepada Allah"

Yang dimaqsud dengan kata Al-Haudli (الحوض ) dalam hadits ini adalah telaganya Rasulullah besuk dihari kiyamat yang disebut dengan Al-Kautsar ( الكوثر ) koyo kang kasebut ing hadits :

"حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ مَـاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيْحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيْزَانُهُ كَنُجُوْمِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا لاَيَظْمَأُ أَبَدًا وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ"

"Luas telagaku adalah perjalanan satu bulan, airnya lebih putih daripada susu, baunya harum melebihi harumnya minyak misik, cangkir-cangkirnya bagaikan bintang-bintang dilangit (banyaknya/jumlahnya). Barang siapa meminumnya niscaya tidak akan merasa haus untuk selamanya, serta pojok-pojoknya sejajar (ukurannya sama)”.

32- "تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَاقْرَؤُهُ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوْحُ رِيْحُهُ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ, وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِيْ جَوْفِِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ أُوْكِيَ عَـلَى مِسْكٍ" رواه الترمذي والنسائي وابن ماجه وابن حبان عن أبي هريرة رضي الله عنه

32- "Belajarlah Al-Qur'an dan bacalah Al-Qur'an, maka sesungguhnya perumpamaan Al-Qur'an bagi yang telah mempelajari kemudian membacanya serta memenuhi kepastian Al-Qur'an itu bagaikan wadah yang berisi minyak misik baunya harum tercium sampai kemana-mana. Dan perumpamaan bagi yang telah mempelajari Al-Qur'an kemudian tidur/lupa (tidak mengulang untuk membaca Al-Qur'an) serta dia mempunyai hafalan Al-Qur'an itu bagaikan wadah berisi minyak misik yang tertutup"

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan :

(1) Mendorong untuk mempelajari Al-Qur'an, baik mempelajari bacaannya atau mempelajari ma’na serta isi yang terkandung didalamnya. Inti pokok daripada diturunkannya Al-Qur’an adalah agar diresapi ma’na dan isinya dengan tujuan akan melaksanakan isi-isinya. Tersebut didalam sebuah ayat :

"كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوْا آيَاتِهِ"

"Al-Qur'an telah aku turunkan kepadamu (Muhammad) yang banyak mengandung barokah dan kebaikannya agar mereka menghayati ayat-ayatnya"

(2) Mendorong untuk sering-sering membaca Al-Qur'an. Maka sebaiknya jangan sampai 40 (empatpuluh hari) sekali tidak bisa khatam Al-Qur’an seperti yang telah disebutkan dalam hadits diatas.

(3) Menjelaskan perumpamaan orang yang telah mempelajari Al-Qur'an serta menjalakan isi-isinya itu seperti wadah yang penuh dengan minyak misik yang terbukak tutupnya maka baunya tersebar sampai kemana-mana. Artinya orang yang mempelajari Al-Qur'an serta bisa memenuhi isi-isinya pembicaraan dan tindakannya serba menyenangkan, didengarkan bisa masuk/menyentuh kedalam hati, dilihat juga menjadikan contoh yang bisa ditiru. Manfa'at serta harum namanya tersebar kemana-mana sehingga bisa mempengaruhi dan membekas rata sampai kepada anak turunnya, sanak saudaranya juga para tetangganya. Bahkan bisa merata sampai kepada bangsa dan negaranya. Orang semacam ini meskipun sudah dikuburkan jasadnya, akan tetapi harum namanya masih terus terdengar, dan pahalanya masih terus mangalir tanpa terputus. Sementara perumpamaan orang yang telah mempelajari Al-Qur'an dan mempunyai hafalan akan tetapi dia tidak mau memenuhi daripada isi-isi Al-Qur’an itu bagaikan wadah yang penuh dengan minyak misik yang tertutup, baunya tidak bisa tersebar sampai kemana-mana. Artinya orang semacam ini tidak bisa diambil manfaatnya oleh orang lain.

33- "تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ لِخَمْسٍ: لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ, وَلِلِقَاءِ الزَّحْفَيْنِ, وَلِنُزُوْلِ الْمَطَرِ, وَلِدَعْوَةِ الْمَظْلُوْمِ, وَلِلأَذَانِ" رواه الطبراني عن ابن عمر رضي الله عنهما

33- “Dibuka pintu-pintu langit karena lima perkara : Karena membaca Al-Qur’an, karena bertemu/bertempurnya dua golongan tentara, karena turun hujan, karena doanya orang yang teraniaya, dan karena adzan”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan beberapa bagian dari waktu-waktu yang ijabah atau mudah terkabul, yaitu :

(1) Disaat setelah membaca Al-Qur’an.

(2) Disaat perang sabilillah.

(3) Disaat setelah adzan lima waktu.

(4) Disaat turun hujan.

(5) Disaat permohonannnya / doanya orang yang dianiaya.

34- "عَلَيْكُمْ بِالشِّفَاءَيْنِ الْعَسَلِ وَالْقُرْآنِ" رواه ابن ماجه والحاكم عن ابن مسعود رضي الله عنه

34- “Kalian gunakanlah dua obat, yaitu madu dan Al-Qur’an”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan :

(1) Sunatnya berobat dari penyakit seperti yang disebutkan dalam hadits :

"تَدَاوَوْا يَاعِبَادَ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمِ"

“Berobatlah wahai para hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah ta’ala itu tidak meletakkan/menurunkan suatu penyakit kecuali juga menurunkan obat selain satu, yaitu pikun”

Jadi berobat itu tidak menghilangkan tawakkal kepada Allah.

(2) Menerangkan keutamaan berobat dengan menggunakan madu dan Al-Qur’an Sebagian dari faidahnya madu adalah untuk mengobati sakit mata dan sakit perut. Maka Rasulullah membiasakan diri minum air segelas dicampur dengan madu setiap pagi sebelum makan apa-apa. Sedangkan Al-Qur’an bisa menjadi obat itu adakalanya untuk menghilangkan kotoran hati serta menjadikan hati terang, sehingga bisa membedakan antara yang benar dan yang salah dan bisa menerima nasihat-nasihat dari orang lain. Adakalanya untuk mengobati penyakit lahiriyah seperti yang telah disebutkan dalam hadits nomor (27) dan nomor (28).

35- "عِنْدَ كُلِّ خَتْمَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ" رواه ابو نعيم وابن عساكر عن أنس رضي الله عنه

35- “Setiap kali khotam Al-Qur’an permohonan kepada Allah dikabulkan”

Keterangan ;

Hadits ini menyampaikan kabar gembira kepada orang yang membaca Al-Qur’an sehingga khotam dia akan diberikan waktunya menjadi waktu yang ijabah/terkabul. Tidak hanya untuk yang mambaca saja, akan tetapi juga untuk orang yang mendengarkan bacaannya, semua doanya menjadi ijabah. Maka dari itu seyogyanya sesudah khotam kemudian berdoa memohon kepada Allah SWT seperti yang disebutkan dalam kitab ( (غيث النفع riwayat dari ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin mengatakan ; nabi Muhammad ketika khotam Al-Qur’an kemudian berdiri dan berdoa :

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, وَالْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّموَاتِ وَاْلأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ, ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ. لاَإِلَهَ إِلاَّهُوَ وَكَذَبَ الْعَادِلُوْنَ بِاللهِ, وَضَلُّوْا ضَلاَلاً بَعِيْدًا, لاَإِلَهَ إِلاَّهُوَ وَكَذَبَ الْمُشْرِكُوْنَ بِاللهِ, مِنَ الْعَرَبِ وَالْمَجُوْسِ وَالْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى وَالصَّائِبِيْنَ وَمَنْ دَعَا ِللهِ وَلَدًا, أَوْصَاحِبَةً أَوْنِدًّا, أَوْشَبِيْهًا أَوْمِثْلاً, أَوْسَمِيًّا أَوْعِدْلاً, فَأَنْتَ رَبُّنَا اْلأَعْظَمُ, مِنْ أَنْ تَتَّخِذَ شَرِيْكًا فِيْمَا خَلَقْتَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلاَوَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيْكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا, اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا, وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. وَالْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَاجًا, قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا, مَاكِثِيْنَ فِيْهِ أَبَدًا, وَيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللهُ وَلَدًا, مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلاَ ِلآبَائِهِمْ, كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُوْلُوْنَ إِلاَّ كَذِبًا. الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي اْلآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ. يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي اْلأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا, وَهُوَ الرَّحِيْمُ الْغَفُوْرُ . الْحَمْدُ ِللهِ فَاطِرِ السَّموَاتِ وَاْلأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلاَئِكَةِ رُسُـلاً أُولِيْ أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ, يَزِيْدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ, إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. مَا يَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلاَ مُمْسِكَ لَهَا, وَمَا يُمْسِكْ فَلاَ مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ, وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. الْحَمْدُ ِللهِ وَسَلاَمٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى, آاللهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُوْنَ. بَلِ اللهُ خَيْرٌ وَأَبْقَى وَأَحْكَمُ, وَأَكْرَمُ وَأَجَلُّ وَأَعْظَمُ مِمَّا يُشْرِكُوْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ وَبَلَغَتْ رُسُلُهُ, وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى جَمِيْعِ الْمَلاَئِكَةِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, وَارْحَمْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ أَهْلِ السَّموَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ, وَاخْتِمْ لَنَا بِخَيْرٍ وَافْتَحْ لَنَا بِخَيْرٍ وَبَارِكْ لَنَا فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَانْفَعْنَا بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. اَللَّهُمَّ ارْحَمْنِيْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَاجْعَلْهُ لِيْ إِمَامًا وَهُدًى وَنُوْرًا وَرَحْمَةً. اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنِيْ مِنْهُ مَا نَسِيْتُ وَعَلِّمْنِيْ مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِيْ تِلاَوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ, وَاجْعَلْهُ لِيْ حُجَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِخْبَاتَ الْمُخْبِتِيْنَ, وَإِخْلاَصَ الْمُوْقِنِيْنَ, وَمُرَافَقَةَ اْلأَبْرَارِ وَاسْتِحْقَاقَ حَقِيْقَةِ اْلإِيْمَانِ. اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا تَنْفَعُنَا بِهِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ , بِرَحْمَتِكَ يَـآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

(……Kemudian berdoa apa yang dihajatkan …… )

36- "الْعِلْمُ ثَلاَثَةٌ كِتَابٌ نَاطِقٌ وَسُنَّةٌ مَاضِيَةٌ وَلاَأَدْرِيْ" رواه الديلمي عن ابن عمر رضي الله عنهما

36- “Ilmu itu ada tiga, yaitu ; kitab (Al-Qur’an), tingkah laku Rasulullah yang telah lewat, dan saya tidak / belum tahu”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan macam-macam ilmu yang bisa buat pegangan, yaitu :

(1) Ilmu Al-Qur’an, artinya seluruh keterangan Al-Qur’an itu pasti benar. Dimana ada suatu perkara yang dianggap baik oleh Al-Qur’an itu sebenarnya juga baik, dan suatu perkara yang dianggap tercela oleh Al-Qur’an adalah sebenarnyajuga tercela.

(2) Sunah Nabi, maksudnya adalah tingkah laku Rasulullah. Dimana ada suatu perkara yang telah diperintahkan atau dilakukan itu pasti baik dan benar, dan dimana ada suatu perkara yang dilarangnya itu pasti jelek dan salah.

(3) Kata-kata (saya tidak atau belum tahu). Artinya jika ada orang yang bertanya suatu masalah dimana dia belum jelas permasalahannya kemudian menjawab “saya tidak atau belum tahu permasalahan itu” maka jawaban itu menunjukkan kalau orang tersebut seorang yang berilmu. Akan tetapi apabila orang tersebut menjawabnya dengan jawaban ngawur tanpa adanya dasar, maka orang tersebut adalah orang yang bodoh, sebab yang namanya bodoh adalah keterangan yang menyalahi atau bertolak belakang dengan kenyataannya.

37- "فَضْلُ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِِر الْكَلاَمِ كَفَضْلِ الرَّحْمَنِ عَلَى سَائِرِ خَلْقِهِ" رواه أبو يعلى والبيهقي عن أبي هريرة رضي الله عنه

37- “Keutamaan Al-Qur’an diatas seluruh perkataan itu seperti keutamaan Allah yang Maha pemurah diatas seluruh makhluq ciptaannya”

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan Al-Qur’an melebihi seluruh perkataan sehingga perbandingannya seperti keutamaan Allah yang Maha tinggi melebihi seluruh makhluk ciptaannya. Demikian ini sudah wajar dan semestinya, sebab sifat agung serta sifat rendah itu menurut yang mempunyai sifat tersebut. Berhubung Al-Qur'an itu adalah merupakan sifatnya Allah yang keagungan dan kemuliaannya melebihi seluruh makhluk ciptaan, maka sifat Allah yang berupa Al-Qur’an mulia dan unggulnya juga melebihi seluruh perkataan.

38- "اَلْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ وَمَاحِلٌ مُصَدَّقٌ مَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ" رواه ابن حبان والبيهقي عن جابر وابن مسعود رضي الله عنهما

38- "Al-Qur'an itu pemberi syafa’at (memintakan pertolongan) yang pasti akan diterima permintaannya, dan akan menjadi musuh yang di benarkan. Barang siapa menjadikan Al-Qur’an berada di depannya, maka Al-Qur’an akan menuntunnya masuk ke sorga. Dan barang siapa menjadikan Al-Qur’an berada di belakangnya, maka Al-Qur’an akan menggiringnya masuk ke neraka”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan : Al-Qur’an itu adakalanya mensyafa’ati terhadap orang yang selalu menjalankan isi-isi Al-Qur’an serta selalu rajin membaca dan memuliakannya. Besuk dihari kiamat Al-Qur’an akan menghadap kepada Allah dengan keperluan memintakan ampun dan rahmat untuk orang tersebut, kemudian akan menuntunnya masuk kesorga. Adakalanya Al-Qur’an menjadi musuhnya orang yang selalu tidak percaya atau selalu melupakan isi-isi Al-Qur’an. Besuk pada hari kiamat Al-Qur’an akan melapor kepada Allah mempermalukan orang tersebut dihadapan Allah yang kemudian akan menggiringnya masuk neraka.

39- "اَلْقُرْآنُ غَنِيٌّ لاَفَقْرَ بَعْدَهُ وَلاَغِنًى دُوْنَهُ" رواه أبو يعلى ومحمد بن نصر عن أنس رضي الله عنه

39- "Al-Qur'an itu merupakan kekayaan yang tidak ada kebutuhan sesudah Al-Qur'an, dan tidak ada kekayaan selain Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu sudah mencukupi bagi orang mu'min sebagai panutan serta tuntunan untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat, tidak membutuhkan tuntunan yang lain selain Al-Qur’an. Sebab Al-Qur'an itu sudah mengandung pokok-pokok daripada tatanan-tatanan guna menata kehidupan didunia serta mengandung tatacara ibadah kepada Allah yang Maha bijaksana dan Maha sampurna. Juga hadits ini bisa diartikan dengan kaya hati. Maksudnya orang mu’min yang mau memperhatikan ma’na dari ayat :

"وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا"

“Tidak ada satu hewan yang ada dibumi ini kecuali Allah sudah menanggung rizkinya”

pasti akan tahu dan yaqin bahwa Allah tidak akan tega terhadap dirinya untuk tidak memberinya rizki selama dia masih mau berusaha dengan segala kemampuannya. Tersebut didalam hadits :

"إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ"

“Sesungguhnya Allah suka terhadap orang mu’min yang mau bekerja”

maka ikhtiar atau berusaha itu tidak akan menghilangkan tawakkal. Orang yang demikian ini kemudian hatinya akan merasa kaya dan tenteram tidak mengharapkan pemberian orang lain.

40- "لاَتَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ" رواه الطبراني والدارقطني والحاكم عن حكيم بن حزام رضي الله عنه

40- “Jangan menyentuh Al-Qur’an kecuali kamu suci”

Keterangan ;

Hadits ini melarang menyentuh atau membawa mushaf Al-Qur’an kecuali sudah suci dari hadats. Apabila menyentuh atau membawa mushaf Al-Qur’an dalam keadaan belum suci dari hadats baik hadts kecil maupun hadats besar, maka hukumnya harom.

41- "إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيْدُ فَقِيْلَ يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا جَلاَؤُهَا فَقَالَ تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ وَذِكْرُ الْمَوْتِ" رواه البيهقي عن ابن عمر رضي الله عنهما

41- “Sesungguhnya jantung ini (hati) bisa berkarat seperti halnya berkaratnya besi. Kemudian Rasulullah ditanya ; Ya Rasulullah, apakah yang bisa mengkilapkan hati ? Rasulullah menjawab ; Yaitu membaca Al-Qur’an serta mengingat-ingat mati”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan dua perkara yang bisa membersihkan kotoran-kotoran hati serta bisa menerangkan atau mencerahkan hati, yaitu :

(1) Membaca Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an itu memang mempunyai kelebihan yang bisa membuat hati terang. Apalagi jika membacanya itu dengan mengetahui dan meresapi arti ayat-ayat yang dibaca. Sebab banyak sekali arti daripada ayat-ayat yang bisa membuat hati terang seperti mengingat bahwa semua perkara itu sudah menjadi kepastian Allah. Seluruh kesulitan pasti akan menemukan kesenangan. Semua makhluk yang mau berusaha sudah pasti rizkinya ditanggung oleh Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang. Hamba yang paling mulia disisi Allah adalah hamba yang paling bertaqwa kepada Allah. Semua itu bisa menjadikan tenteramnya hati.

(2) Mengingat-ingat mati. Sebab barang siapa yang ingat akan mati, maka hatinya tidak akan ketergantungan terhadap harta benda, hatinya menerima atau qona’ah pada apa yang telah menjadi pemberian Allah, sabar ketika mengalami cobaan, syukur ketika mendapatkan keni’matan, dan selalu rajin taat beribadah kepada Allah. Sebab dia hanya berharap pahala dan anugerah dari Allah yang Maha pemurah besuk pada hari kiamat.

42- "يَقُوْلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ مَسْأَلَتِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِيْنَ, وَفَضْلُ كَلاَمِ اللهِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ" رواه الترمذي وقال حديث حسن

42- “Tuhan (Allah) yang Maha banyak kebaikannya dan Maha tinggi mengatakan ; Barang siapa yang disibukkan oleh Al-Qur’an jauh dari memohon kepadaku, maka aku memberinya perkara yang lebih utama dari apa yang telah aku berikan pada mereka yang meminta. Dan keutamaan ucapan Allah diatas seluruh ucapan itu seperti keutamaan Allah diatas seluruh makhluk ciptaannya”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan keutamaan dua perkara, yaitu :

(1) Membaca Al-Qur’an. Sehingga barang siapa yang rajin selalu membaca Al-Qur’an sampai tidak ada kesempatan untuk memohon kepada Allah, maka Allah yang Maha pemurah akan memberinya anugerah-anugerah meskipun dia tidak memintanya. Sebab Allah suka akan orang yang membaca Al-Qur'an.

(2) Tingginya derajat Al-Qur’an melebihi seluruh ucapan sehingga perbandingan antara Al-Qur'an dengan yang lain seperti tingginya Allah melebihi seluruh makhluk ciptaannya. Sudah pasti tidak ada bandingannya sama sekali.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya hadits ini termasuk hadits (qudsiy) artinya Rasulullah menerangkan serta menceritakan ucapan Allah. Perbedaannya dengan Al-Qur'an adalah kalau hadits qudsiy yang diwahyukan kepada Rasulullah itu hanya maksudnya saja, sedangkan rangkaian kata-katanya itu keluar dari Rasulullah. Sedangkan Al-Qur’an, maka yang diwahyukan adalah ma'na berikut kata-katanya.

43- "مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ, وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, لاَ أَقُوْلُ ألـم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ" رواه البخاري والترمذي وابن الضريس والحاكم والبيهقي عن ابن مسعود رضي الله عنه

43- “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabnya Allah (Al-Qur’an) maka sebab membaca dia memperoleh satu kebaikan. Satu hasanah (kebaikan) memperoleh sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan bahwa alif laam miim (ألم ) itu satu hanya huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf”

Keterangan ;

Hadits ini menerangkan dua perkara, yaitu :

(1) Mendorong untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan diberi kabar gembira akan diberi pahala sepuluh kali lipat.

(2) Menjelaskan tentang Maha pemurah serta Maha agungnya Allah sehingga mau memberikan pahala ibadahnya kepada seorang hamba sampai sepuluh kali lipat. Bahkan bisa sampai tujuhratus kali lipat seperti yang telah disebutkan dalam hadits menurut kadar keikhlasannya dalam beribadah.

44- "ِلأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ" رواه ابن ماجه عن أبي ذر رضي الله عنه

44-“Sungguh berangkat pagimu guna mempelajari satu ayat dari kitabnya Allah (Al-Qur’an) adalah lebih baik bagimu daripada shalat seratus (100) roka’at”

Keterangan ;

Hadits ini mendorong untuk belajar Al-Qur’an. Baik belajar dari segi bacaannya maupun ma’na dan isinya sehingga dia akan diberi kebahagiaan dengan hanya belajar satu ayat saja pahalanya lebih utama daripada shalat seratus (100) roka’at. Demikian ini tidak aneh, sebab belajar ilmu yang manfa’at apalagi ilmu Al-Qur’an hukumnya wajib. Sedangkan salat sunat itu hanya merupakan keutamaan. Dan lagi ibadahnya seorang yang alim itu lebih utama daripada ibadahnya seorang yang bodoh.

45- " مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْؤُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِيْ بُيُوْتِ الدُّنْيَا. فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِيْ عَمِلَ بِهَذَا؟" رواه أبو داود والحاكم عن سهل ابن معاذ عن أبيه رضي الله عنه

45- "Barang siapa membaca Al-Qur’an dan menjalankan isi-isinya maka bapak ibunya akan dikenakan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya lebih bagus daripada cahaya matahari didalam rumah-rumah dunia. Maka apa dan bagaimana anggapan kalian terhadap orang yang telah menjalankan isi-isi Al-Qur’an ?”

Keterangan ;

Hadits ini merangkan tentang tingginya derajat seseorang yang ahli Al-Qur'an, rajin membaca Al-Qur'an, serta menjalankan isi-isi Al-Qur'an disisi Allah sehingga bisa mengangkat derajat kedua orang tuanya besuk pada hari kiamat dimana keduanya akan diberi anugerah oleh Allah berupa mahkota yang terangnya cahaya melebihi terangnya cahaya matahari. Jika kedua orang tuanya saja diberi anugerah yang sedemikian besarnya, lantas bagaimana dan seberapa besar anugerah Allah yang diberikan kepada anak yang membaca dan menjalankan isi-isi Al-Qur’an ? tentu saja sudah pasti lebih tinggi daripada anugerah yang diberikan kepada kedua orang tuanya yang tidak menjalankanisi-isi Al-Qur’an seperti anaknya tadi.

46- "اَلشُّفَعَاءُ خَمْسَةٌ : اَلْقُرْآنُ وَالرَّحِمُ وَاْلأَمَانَةُ وَنَبِيُّكُمْ وَأَهْلُ بَيْتِهِ" رواه الديلمي عن أبي هريرة رضي الله عنه

46- "Perkara yang mensyafa’ati (memintakan pertolongan) ada lima (5) : (1) Al-Qur'an, (2) kekerabatan, (3) amanah, (4) nabimu, (5) serta ahli bait Nabimu"

Keterangan ;

Hadits ini menjelaskan tentang beberapa bagian yang bisa mensyafa’ati besuk pada hari kiamat, yaitu :

(1) Al-Qur'an bisa memintakan syafa’at kepada Allah bagi yang orang rajin membaca serta menjalankan isi-isi Al-Qur'an.

(2) Kekerabatan bisa memintakan syafa’at kepada Allah bagi yang mau menyambung tali persaudaraan (silaturrahim).

(3) Amanah bisa memintakan syafa’at kepada Allah bagi orang yang mau manyampaikan amanah kepada yang manerimanya.

(4) Nabi Muhammad SAW bisa memintakan syafa'at kepada Allah bagi orang yang mau beriman kepadanya.

(5) Ahli bait Rasulullah, yoitu sayyidina 'Ali, sayyidatina Fathimah Az-Zahro', sayyidina Hasan, dan sayyidina Husain, begitu juga para Nabi, para ulama, serta para syuhada', bisa memohonkan syafa'at kepada Allah bagi orang yang mau memenuhi hak dan kewajiban atas orang tersebut.

47- "أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِيْ تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ" رواه أبو نعيم عن النعمان بن بشير وأنس رضي الله عنهما

47- "Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-Qur'an"

Keterangan ;

Hadits menerangkan termasuk ibadah yang lebih utama adalah membaca Al-Qur'an. Membaca Al-Qur’an itu lebih utama daripada dzikir selain dzikir khusus, seperti membaca :

"لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِير"

setelah shalat ferdlu, maka yang lebih utama adalah dzikir khusus.

Penulis.