ja_mageia

Kata Mutiara

Kejarlah cita-cita sebelum cinta, apabila tercapai cita-cita maka dengan sendirinya cinta itu akan hadir..
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Awal Galeri Puisi
Puisi
SUKUN
Ditulis oleh Miftahul Abrori   
Senin, 05 April 2010 07:18

Di musim kemarau daunnya berguguran
Mencium genting rumahmu
Aku segan melangkah di halaman
Takut membangunkan tidur siangmu

Dan sukun ini menjadi penjerat kenangan
Penanda kanak menjadi dewasa
Juga anak yang seharusnya rela menjadi budak
Sukun itu lebih tahu
Kenapa rumahmu tak seramai dulu
Mereka yang dilahirkan dari rahimmu
Tak berkunjung, tak mau kembali

Rumahmu tak seindah dulu kata mereka
Lebah di peternakanmu tak lagi bermadu
Sayapnya berserakan
Terpatahkan angin luar yang liar
Suaramu tak didengarnya lagi
Mereka melupakan istana buatanmu
Juga pohon sukun yang kini tumbang
Mati….

Bumi Mangkuyudan, Maret 2010

Miftahul Abrori, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.


 

 
Rantau
Ditulis oleh Miftahul Abrori   
Senin, 05 April 2010 07:07

Di bumi yang sebelumnya tak kukenal penghuninya
Aku menjelma manusia rantau
Tak jelas, entah karena atau untuk

Kampung halaman serupa kekasih gelap
Rumah menjadi istri simpanan
Cukup sesekali dikunjungi

Sedang kota ini adalah calon pengantin
Menumpuk segala harapan dan keindahan
Tak sabar menunggu hari perkawinan



 
Sajak-sajak Fatimah Wahyu Sundari
Ditulis oleh Miftahul Abrori   
Selasa, 26 Januari 2010 22:27
HUJAN MENGERING DI EMBUN

Sebait lagu bergeming
Mengalun bersama nadaku
Kulihat dari balik jendela
Setetes hujan mengering
Di dedaunan pisang yang berembun
Sedang lumut riang menari
Menyambut mentari hilang pergi
Tertelan gelapnya awan

Aku seakan berjalan di lingkaran yang sama
Tak kutemu ujungnya
Alamku berteriak
Bumi berputar melintang
Dunia hancur di tanganku
Aku meleleh di samuderanya

Matahari lelah bersinar
Saat langit berurai air mata
Di ujung malam aku terjaga
Mencerna detak jam yang terhenti
Cukup bagiku menepi
Kembali menangis bersama langit.

RACUN BIBIR


Ia datang dengan mata merah
Menyisakan tisu yang menjadi cawan kesedihan
Ia menangis di pelukanku
Kusambut dengan senyum kepedihan
Aku mencium aromanya hari ini
Wewangian dari tubuhnya yang kunanti
Senyum itu mulai mengembang
Lalu mengambang
Dari bibirnya yang biru
Racun deras mengalir
Menjelma anak sungai
Lalu bermuara di laut malam


AKU TAK BISA LAGI BERHITUNG


Aku tak bisa lagi menghitung
Seberapa banyak anak tangga
yang harus kutapaki
Aku tak bisa mengenali
arah yang kau tunjukkan
Mataku rabun
tak bisa membaca matamu
Karena hatimu menutup kenanganku

Aku tak bisa lagi berhitung
Suaraku tercekat tatapanmu

*) Fatimah Wahyu Sundari, Siswi SMA Al Muayyad. Bergiat di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.
 
Sajak-sajak Nina Mazaya
Ditulis oleh Nina Mazaya   
Selasa, 26 Januari 2010 22:24
HUJAN KALI INI

Hujan kali ini
Mengingatkan pertemuan terakhir
Di akhir tahun lalu
Hujan kali ini
Mengajak kita mengenang kembali
Saat kita mencecap manisnya gula asmara
Hujan kali ini
Mengulang janji yang pernah terucap
Menjadi mantra keabadian

Biar seperti ini, sayang..
Hujan di pertengahan bulan kali ini
Membasahi romantisme kisah kita
Biar seperti ini, sayang..
Hujan menyemai benih rindu
Hingga saat kita berjumpa kembali

MENAFSIR TAKDIR

Aku menatap malam
Ah, yang kulihat hanya hitam
Tak ada bintang
Tak ada kawan
Aku berjalan sepi
Ah, yang ada hanya bingung
Tak ada tujuan
Aku tertawa tapi batin menjerit
Aku bosan dengan semua ini
Apa mati yang harus menjadi pilihan

Aku bisa kembali membuka mataku
Memperjuangkan sisa hidupku
Mempertahankan setiap tetes darah mengalir dinadiku
Kuperjuangkan sisa hidupku
Biar rapuh tulang ini
Biar tak berdaya raga ini

Tuhan..,
Berikan nyawa dalam raga dan jiwaku
Izinkah aku menatap hari esok
Menafsir takdir hidup yang Kau bukukan

Nina Mazaya, Siswi SMA Al-Muayyad Surakarta, Jl. KH.Samanhudi No 64, Mangkuyudan Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.
 
Hujan Kali ini (Sajak-sajak Nina Mazaya)
Ditulis oleh Nina Mazaya   
Senin, 25 Januari 2010 22:35
HUJAN KALI INI

Hujan kali ini
Mengingatkan pertemuan terakhir
Di akhir tahun lalu
Hujan kali ini
Mengajak kita mengenang kembali
Saat kita mencecap manisnya gula asmara
Hujan kali ini
Mengulang janji yang pernah terucap
Menjadi mantra keabadian

Biar seperti ini, sayang..
Hujan di pertengahan bulan kali ini
Membasahi romantisme kisah kita
Biar seperti ini, sayang..
Hujan menyemai benih rindu
Hingga saat kita berjumpa kembali

MENAFSIR TAKDIR

Aku menatap malam
Ah, yang kulihat hanya hitam
Tak ada bintang
Tak ada kawan
Aku berjalan sepi
Ah, yang ada hanya bingung
Tak ada tujuan
Aku tertawa tapi batin menjerit
Aku bosan dengan semua ini
Apa mati yang harus menjadi pilihan

Aku bisa kembali membuka mataku
Memperjuangkan sisa hidupku
Mempertahankan setiap tetes darah mengalir dinadiku
Kuperjuangkan sisa hidupku
Biar rapuh tulang ini
Biar tak berdaya raga ini

Tuhan..,
Berikan nyawa dalam raga dan jiwaku
Izinkah aku menatap hari esok
Menafsir takdir hidup yang Kau bukukan

Nina Mazaya, Siswi SMA Al-Muayyad Surakarta, Jl. KH.Samanhudi No 64, Mangkuyudan Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 3

Dukungan

: Al-Muayyad
: Keuangan
: SMA
: MA
: SMP
: Kopontren

Online

Kami memiliki 13 Tamu online

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini88
mod_vvisit_counterKemarin166
mod_vvisit_counterMinggu ini988
mod_vvisit_counterBulan ini611
mod_vvisit_counterTotal66979

Facebook