|
Sajak-sajak Fatimah Wahyu Sundari |
|
Ditulis oleh Miftahul Abrori
|
|
Selasa, 26 Januari 2010 22:27 |
HUJAN MENGERING DI EMBUN Sebait lagu bergeming Mengalun bersama nadaku Kulihat dari balik jendela Setetes hujan mengering Di dedaunan pisang yang berembun Sedang lumut riang menari Menyambut mentari hilang pergi Tertelan gelapnya awan Aku seakan berjalan di lingkaran yang sama Tak kutemu ujungnya Alamku berteriak Bumi berputar melintang Dunia hancur di tanganku Aku meleleh di samuderanya Matahari lelah bersinar Saat langit berurai air mata Di ujung malam aku terjaga Mencerna detak jam yang terhenti Cukup bagiku menepi Kembali menangis bersama langit. RACUN BIBIR Ia datang dengan mata merah Menyisakan tisu yang menjadi cawan kesedihan Ia menangis di pelukanku Kusambut dengan senyum kepedihan Aku mencium aromanya hari ini Wewangian dari tubuhnya yang kunanti Senyum itu mulai mengembang Lalu mengambang Dari bibirnya yang biru Racun deras mengalir Menjelma anak sungai Lalu bermuara di laut malam
AKU TAK BISA LAGI BERHITUNG Aku tak bisa lagi menghitung Seberapa banyak anak tangga yang harus kutapaki Aku tak bisa mengenali arah yang kau tunjukkan Mataku rabun tak bisa membaca matamu Karena hatimu menutup kenanganku Aku tak bisa lagi berhitung Suaraku tercekat tatapanmu *) Fatimah Wahyu Sundari, Siswi SMA Al Muayyad. Bergiat di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad. |
|
|
Ditulis oleh Nina Mazaya
|
|
Selasa, 26 Januari 2010 22:24 |
HUJAN KALI INI Hujan kali ini Mengingatkan pertemuan terakhir Di akhir tahun lalu Hujan kali ini Mengajak kita mengenang kembali Saat kita mencecap manisnya gula asmara Hujan kali ini Mengulang janji yang pernah terucap Menjadi mantra keabadian Biar seperti ini, sayang.. Hujan di pertengahan bulan kali ini Membasahi romantisme kisah kita Biar seperti ini, sayang.. Hujan menyemai benih rindu Hingga saat kita berjumpa kembali MENAFSIR TAKDIR Aku menatap malam Ah, yang kulihat hanya hitam Tak ada bintang Tak ada kawan Aku berjalan sepi Ah, yang ada hanya bingung Tak ada tujuan Aku tertawa tapi batin menjerit Aku bosan dengan semua ini Apa mati yang harus menjadi pilihan Aku bisa kembali membuka mataku Memperjuangkan sisa hidupku Mempertahankan setiap tetes darah mengalir dinadiku Kuperjuangkan sisa hidupku Biar rapuh tulang ini Biar tak berdaya raga ini Tuhan.., Berikan nyawa dalam raga dan jiwaku Izinkah aku menatap hari esok Menafsir takdir hidup yang Kau bukukan Nina Mazaya, Siswi SMA Al-Muayyad Surakarta, Jl. KH.Samanhudi No 64, Mangkuyudan Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad. |
|
Hujan Kali ini (Sajak-sajak Nina Mazaya) |
|
Ditulis oleh Nina Mazaya
|
|
Senin, 25 Januari 2010 22:35 |
HUJAN KALI INI Hujan kali ini Mengingatkan pertemuan terakhir Di akhir tahun lalu Hujan kali ini Mengajak kita mengenang kembali Saat kita mencecap manisnya gula asmara Hujan kali ini Mengulang janji yang pernah terucap Menjadi mantra keabadian Biar seperti ini, sayang.. Hujan di pertengahan bulan kali ini Membasahi romantisme kisah kita Biar seperti ini, sayang.. Hujan menyemai benih rindu Hingga saat kita berjumpa kembali MENAFSIR TAKDIR Aku menatap malam Ah, yang kulihat hanya hitam Tak ada bintang Tak ada kawan Aku berjalan sepi Ah, yang ada hanya bingung Tak ada tujuan Aku tertawa tapi batin menjerit Aku bosan dengan semua ini Apa mati yang harus menjadi pilihan Aku bisa kembali membuka mataku Memperjuangkan sisa hidupku Mempertahankan setiap tetes darah mengalir dinadiku Kuperjuangkan sisa hidupku Biar rapuh tulang ini Biar tak berdaya raga ini Tuhan.., Berikan nyawa dalam raga dan jiwaku Izinkah aku menatap hari esok Menafsir takdir hidup yang Kau bukukan Nina Mazaya, Siswi SMA Al-Muayyad Surakarta, Jl. KH.Samanhudi No 64, Mangkuyudan Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad. |
|
Ditulis oleh Ahmad Syafi'i
|
|
Selasa, 22 Desember 2009 17:01 |
|
Jasamu Bunda Jasamu Bunda Keluh pilu tak kau hiraukan Kening indahmu berucuran keringat yang menetes Sengat surya serasa sahabat bagimu Langkahmu tak surut meski awan berkabut Sepenuh hati kau beri aku cinta Tanpa harap ganti dariku Santun sayang membelai indah Adakah suatu nanti kau lelah? Ingatkan aku saat nasehatmu mulai kuabaikan Beri aku cahaya bila gelap menyapa jiwa Suci jasamu bunda tak sepenuhnya dapat kubalas Jasamu Bunda *)Ahmad Syafi’i Kelas X MA Al Muayyad Surakarta, Jl. KH. Samanhudi, 64, Mangkuyudan, Solo 57142. DIMUAT : SOLOPOS, Minggu, 20 Desember 2009 |
|
Ditulis oleh Miftahul Abrori
|
|
Selasa, 01 Desember 2009 22:40 |
|
| Sajak Sang Pengembara (Kepada Bunda)
Miftahul Abrori
Tak usah kau hiraukan, kemana kaki kupijakkan Ketika aku mengembara, Di bumi yang mulai retak Memanggul pena, memetakan nasib di kertas putih Berburu takdir yang tak bisa diterka
Maka... Jika tak kau dapati baktiku padamu Jangan sesalkan bulir peluh yang mengucur di nadiku Air susu yang mengalir di darahku
Selama langkahku tak membuyarkan warna pelangi Biarkan aku mengembara, di bumi yang mulai retak Tak peduli jejak kaki tinggalkan cerca Ucap jiwa sisakan kesah Kutahu doamu selalu membimbingku Di perantauan ku tak bisa tenang hidup tanpa cintamu Aku butuh nasehatmu karena perjalananku Tak sesederhana air yang mengalir Tak semudah kebetulan
Aku tak ingin seperti layang-layang, menyerah saja dipermainkan angin Ada cita yang harus dicari Ada suara yang harus dikabarkan
Surga itu masih di telapakmu Tangan Tuhan masih di tanganmu Dan saat aku mengembara, di bumi yang mulai retak Aku sadar, aku tak bisa berbakti Mungkin tak sekarang Entah kapan, aku pun enggan berjanji Dedicated for my mother and mothers in the world Bumi Mangkuyudan, Solo, Desember 2008 | Dimuat Suara Merdeka, 21 Desember 2008 |
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 2 |