Pendaftaran
Dukungan

W A    : 0898 999 6464
Telegram : Al-Muayyad
Pin BB     : 7604FADA
IMO        : Al-Muayyad
Line        : Al-Muayyad
IG : almuayyad_solo

Twitter : almuayyad_solo

Online
Kami memiliki 40 Tamu online
Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini167
mod_vvisit_counterKemarin2021
mod_vvisit_counterMinggu ini2188
mod_vvisit_counterBulan ini47919
mod_vvisit_counterTotal1562768
Facebook
Awal

Wow! Baru 19 Tahun, Alia Profesor Termuda di Dunia

Ini dia profesor termuda di dunia. Usianya baru 19 tahun, namun wanita ini telah mencetak rekor dunia sebagai profesor paling muda dalam sejarah.

Dialah Alia Sabur asal Northport, New York, AS. Wanita satu ini memang luar biasa. Dia mulai bicara dan membaca ketika masih berumur 8 bulan! Alia menyelesaikan pendidikan SD pada usia 5 tahun.

Dia kemudian masuk kuliah pada umur 10 tahun. Dan pasa umur 14 tahun, Alia meraih gelar sarjana sains dalam bidang matematika aplikasi dari Universitas Stony Brook, wanita paling muda dalam sejarah AS yang berhasil melakukannya.

Pendidikan Alia berlanjut ke Universitas Drexel dan meraih gelar M.S. dan Ph.D. dalam sains dan engineering.

Selengkapnya ...

 

Gamelan ditabuh Sekaten, sarat ritual dan makna

 Simbok-simbok itu tak sedang mengolesi bibirnya dengan lipstik, melainkan tengah memamah daun sirih, dicampur injet dan tembakau. Tentu saja, aroma khasnya lekas meruap ketika sedang tertawa. Begitu pun dengan warna bibir dan giginya yang merah bata, seakan memantulkan potret khas perempuan tua masa lalu.

Inilah cerita khas nginang yang sengaja dihadirkan kembali saat dua perangkat gamelan Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Guntur Sari terdengar di Masjid Agung Keraton Surakarta, Jumat (19/2). Atas peristiwa penabuhan dua perangkat gamelan itulah, seribuan orang rela berdesakan dan memamah sirih dan uba rampe lainnya dengan penuh suka.

SELENGKAPNYA ...

 

Reportase Acara Yang Muda Yang Bersastra

Membuat Peran Hidup

 Apa yang harus dilakukan penulis agar peran dalam ceritanya terkesan hidup?. Bagi seseorang yang baru belajar menulis tentu itu menjadi suatu persoalan.

Penulis Yudhi Herwibowo mempunyai kiat-kiatnya. “ Cari keunikan dari tokoh tersebut. Boleh keunikan sifat, lingkungan dan harus berani keluar dari “kotak”  “ Jelasnya menjawab pertanyaan Mila, salah satu peserta di acara Yang Muda Yang Bersastra, Dialog Penulisan Kreatif Bersama Sastrawan Pawon, Kamis 28 Januari 2010 di Serambi Masjid Pesantren Al-Muayyad.

Acara yang digelar kerjasama IPMA (OSIS-nya Al-Muayyad) Dan Thariqat Sastra Sapu Jagad (TSSJ) itu menghadirkan para penulis dari Buletin Sastra Pawon,  yaitu : Bandung Mawardi, Yudhi Herwibowo, Yunanto Sutyastomo, Fanny Chotimah Indah darmastuti dan Puitri Hatiningsih. Bertindak sebagai moderator, Miftah koordinator TSSJ yang juga kontributor Gradasi Biro Solo. Miftah membuka acara dengan membacakan biografi singkat narasumber. Sekitar 400-an peserta yang berasal dari siswa SMP, SMA dan MA Al-Muayyad tampak antusias. Apalagi sepanjang acara diselingi tanya jawab dan pembagian doorprize berupa  majalah Gradasi, Buletin Pawon dan beberapa buku dari narasumber.

Selengkapnya ...

 

Kiai Arwani: Sangsi Material Nikah Siri Buruk bagi Masyarakat

KH Drs Arwani FaishalPernikahan siri atau pernikahan yang tidak di daftarkan secara administratif kepada negara adalah perkara perdata yang tidak tepat jika diancam dengan hukuman penjara. Bahkan sangsi material (denda) juga tetap memiliki dampak sangat buruk bagi masyarakat. 

"Bila mengenakan denda dalam jumlah tertentu untuk orang-orang yang melakukan nikah siri, tentu hal ini dapat menimbulkan ketidakadilan. Bukan masalah bagi mereka yang punya uang banyak. Namun tidak adil bagi mereka yang secara ekonomi hidupnya pas-pasan," tutur Wakil Ketua Lembaga Bathsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU) kepada NU Online di Jakarta, Selasa (16/2).

SELENGKAPNYA ...

 

Nikah siri diancam 3 bulan penjara

Pernikahan di bawah tangah atau siri dinilai paling banyak merugikan pihak perempuan. Pemberlakukan RUU Peradilan Agama Tentang Perkawinan perlu dikaji betul supaya perempuan tidak dirugikan untuk keduakalinya.

“RUU ini memang haru dilihat dari plus minusnya. Dari fiqh kan sah saja, tapi dari segi dampak, karena tidak tercatat di pengadilan, itu yang jadi korban perempuan,” tutur Sekjen Aalimat, Gerakan Keadilan untuk Keluarga Islam, Maria Ulfa Anshor, Senin (15/2).

SELANJUTNYA ... 

 

Pergantian nama Solo layak direalisasikan

Koordinator tim penyusunan usulan penggantian Surakarta menjadi Solo/Sala, Rahardjo mengatakan pihaknya telah secara intens mengkaji aspek historis, hukum dan nilai lebih pentingnya penggantian kata tersebut.

Berdasarkan kajian itu, terangnya, penggunaan kata Solo/Sala untuk menyebut kota dan sekaligus Pemkot-nya tidak mustahil diwujudkan.

Tentu saja, usulan tersebut harus mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat Kota Bengawan. Begitu mendapat dukungan masyarakat, usulan itu perlu segera ditanggapi kalangan Pemkot dan DPRD kota. Selanjutnya, baru Pemkot dan DPRD mengajukan usulan ke pemerintah pusat.

SELENGKAPNYA ... 

 

PURNAMA DI KOTA BENGAWAN

 


K.H. Ahmad Umar Abdul Manan (1916 – 1980)

 Ia adalah salah seorang ulama Al-Quran yang shalih, wara’, dan kharismatik. Beberapa ulama thariqah juga meyakini pengasuh pesantren terkemuka ini adalah waliyullah.

Di era tahun 1970 hingga 1980an, di Jawa ada beberapa ulama yang dikenal sebagai ahlul Quran, pemegang otoritas pengajaran Al-Quran yang mu’tabar. Selain mengajarkan pembacaan dan penghafalan Al-Quran yang memiliki sanad yang musalsal, diakui kebersambungannya, hingga Rasulullah SAW, mereka juga diyakini mendapat anugerah khusus dari Allah berupa pengetahuan tentang sebagian asrar Al-Quran, rahasia spiritual Al-Quran.

Di antara ulama ahlul Quran yang termasyhur pada kurun tersebut adalah K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan, pengasuh Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah. Kedalaman ilmu murid kesayangan K.H.R. Muhammad Moenawwir Krapyak,Yogyakarta, itu diakui oleh ulama pesantren pada masanya dan pemerintah. Terbukti dari penunjukannya sebagai juri MTQ Internasional tahun 1953 yang digelar di Jakarta, padahal waktu itu usianya baru 37 tahun.

Selengkapnya ...

 
Artikel Lain...

<< Mulai < Sebelumnya 11 12 13 14 15 16 17 18 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL