|
MUI Bogor: Nikah Siri Sudah Sah |
|
Wacana pemerintah untuk mempidanakan pelaku nikah siri dengan mengundang-undangkan pernikahan siri tersebut ditolak oleh Majelis Ulama Islam (MUI) Bogor. Ketua MUI cabang Bogor, KH Adam Ibrahim, menjelaskan alasan penolakan tersebut karena nikah siri dalam ajaran Islam sudah sah jika memenuhi persyaratan.
"Saya tidak sependapat jika nikah siri diundang-undangkan, apalagi sampai pelanggarnya dipidanakan, karena menurut ajaran agama Islam sah jika sudah memenuhi persyaratan," kata Adam, Senin (1/3).
SELENGKAPNYA ... |
|
Kiai Imam Rozi (Singo Manjat) dan KH. Abdul Mu’id Tempursari Klaten |
|
Kiai Imam Rozi (Singo Manjat) adalah pendiri Pondok Pesantren Singo Manjat Tempursari Klaten. Ia leluhur atau cikal bakal masyarakat Tempursari Klaten, yang keturunannya dan santrinya tersebar ke berbagai daerah.
Ia yang membawa misi ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, mendirikan tempat-tempat ibadah, pondok pesantren dan majlis taklim, baik di Jawa tengah, Jawa Timur, maupun di Jawa Barat. Kiai Imam Razi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Wirononggo II bin Kiai Wirononggo I bin Kiai Singo Hadiwijoyo bin Kiai Tosari bin Kiai Ya’kub bin Kiai Ageng Kenongo. Ia lahir pada tahun 1801 M. Sejak kecil ia belajar agama dari ayahnya, Kiai Maryani, kemudian berguru kepada Kiai Rifai, yang sekarang makamnya ada di Gathak Rejo, Drono Klaten. Ia juga berguru kepada Kiai Abdul Jalil Kalioso bersama Kiai Mojo, Penasihat Pangeran Diponegoro.
Pada usia 24 tahun, Imam Rozi bergabung dengan Pangeran Diponegoro menentang dan memerangi penjajah Belanda, bersama Kiai Mojo dan para pejuang lainnya. Ia diangkat sebagai manggala yudha atau panglima perang dan sebagai penghubung antara Pangeran Diponegoro dan Paku Buwono VI Surakarta.
|
|
Selengkapnya ...
|
|
Hafal Al-Qur’an, Kuliah Gratis Sampai S3 |
|
Bagi yang ingin menempuh pendidikan tinggi dengan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun alias gratis, mudah saja. Syaratnya, harus hafal Al-Qur’an.
Kabar gembira ini datang dari Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof Dr H Imam Suprayogo saat menghadiri Peringatan Maulid Nabi dan Haul ke-15 Pondok Pesantren Salaf Terpadu Ar-Risalah yang digelar di Aula Muktamar Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis, (18/2) malam.
SELENGKAPNYA ... |
|
67 Persen Penduduk Dunia Punya Ponsel |
 Ponsel seolah telah menjadi barang 'wajib' bagi banyak orang. Bukan hanya di negara kaya, tapi juga telah merambah negara-negara miskin di dunia.
Dikutip detikINET dari Stlttoday, Kamis (25/2/2010), Badan Telekomunikasi PBB (International Telecommunication Union) melaporkan, sekitar 4,6 miliar atau 67 persen penduduk dunia telah menggunakan ponsel. SELENGKAPNYA ... |
|
Tasikmalaya, Pertama Nikmati WiMAX |
|
Pemerintah dan perusahaan penyelenggara telekomunikasi menargetkan bahwa pada 2010 seluruh daerah, baik desa atau kota sudah terhubung dengan jaringan Internet.
"Direncanakan bahwa tahun 2010 ini seluruh Desa di Indonesia sudah bisa terhubung dengan dunia Internet," kata Direktur Standarisasi dan Audit Aplikasi Telematika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ir Woro Indah Widiastuti di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (24/2).
Woro yang memawakili Menkominfo di acara peluncuran WiMAX di hotel Mandalawangi Tasikmalaya mengatakan, program tersebut akan membawa manfaat kemajuan teknologi Indonesia. SELENGKAPNYA ... |
|
Wow! Baru 19 Tahun, Alia Profesor Termuda di Dunia |
|
Ini dia profesor termuda di dunia. Usianya baru 19 tahun, namun wanita ini telah mencetak rekor dunia sebagai profesor paling muda dalam sejarah.
Dialah Alia Sabur asal Northport, New York, AS. Wanita satu ini memang luar biasa. Dia mulai bicara dan membaca ketika masih berumur 8 bulan! Alia menyelesaikan pendidikan SD pada usia 5 tahun. Dia kemudian masuk kuliah pada umur 10 tahun. Dan pasa umur 14 tahun, Alia meraih gelar sarjana sains dalam bidang matematika aplikasi dari Universitas Stony Brook, wanita paling muda dalam sejarah AS yang berhasil melakukannya. Pendidikan Alia berlanjut ke Universitas Drexel dan meraih gelar M.S. dan Ph.D. dalam sains dan engineering. |
|
Selengkapnya ...
|
|
Gamelan ditabuh Sekaten, sarat ritual dan makna |
|
Simbok-simbok itu tak sedang mengolesi bibirnya dengan lipstik, melainkan tengah memamah daun sirih, dicampur injet dan tembakau. Tentu saja, aroma khasnya lekas meruap ketika sedang tertawa. Begitu pun dengan warna bibir dan giginya yang merah bata, seakan memantulkan potret khas perempuan tua masa lalu.
Inilah cerita khas nginang yang sengaja dihadirkan kembali saat dua perangkat gamelan Kanjeng Kiai Guntur Madu dan Kanjeng Kiai Guntur Sari terdengar di Masjid Agung Keraton Surakarta, Jumat (19/2). Atas peristiwa penabuhan dua perangkat gamelan itulah, seribuan orang rela berdesakan dan memamah sirih dan uba rampe lainnya dengan penuh suka. SELENGKAPNYA ... |
|