KH Dian Nafi
Drs. KH. Mohammad Dian Nafi, M.Pd.


Belajar Menjadi Guru sejak Muda*

Oleh:

Nurul Marifah, Ina Royani, dan Imawati Rofiqoh

 

Pak Dian, demikian Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Cabang Windan biasa disapa oleh para santrinya. Ia memiliki nama lengkap Mohammad Dian Nafi, lahir di Sragen pada 4 April 1964, dan merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama KH Ahmad Djisam Abdul Mannan, perintis Pesantren An-Najah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah. Sedangkan ibunya adalah Hj Siti Fathonah binti Barmawi, lulusan Al-Muayyad tahun 1956. Pak Dian adalah cucu KH Abdul Mannan, pendiri Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta.

Sosok kiai yang sederhana dan bijaksana di mata para santrinya itu, tumbuh besar di pondok pesantren sejak berusia 8 tahun. Ia tinggal di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, belajar kepada pamannya, KH Ahmad Umar Abdul Mannan, yang biasa disapa Mbah Umar, salah seorang ulama besar Al-Quran di era tahun 1950-1980-an. Ia menjalani masa kecilnya di bawah asuhan pamannya itu.

Kedekatan dan kebersamaan yang cukup lama dengan Mbah Umar memberikan banyak pelajaran berharga baginya. Meskipun tinggal di pesantren yang diasuh oleh pamannya, tak sampai setahun ia tinggal di rumah paman, selebihnya di asrama bersama santri-santri yang lain, dan belajar hidup mandiri dan sederhana. Hal tersebut nampak dari ketekunan dan keuletannya dalam belajar dan menjalani kehidupannya di pesantren.

Sejak tahun 1986 Pak Dian diijinkan oleh KH Abdul Rozaq Shofawi untuk mengikuti program-program singkat di pelbagai pesantren di Jawa dan luar Jawa. Setiap tahun Pak Dian meluangkan waktu 3 sampai 7 hari di berbagai pesantren. Yang sampai empat bulan adalah di Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Angkatahn Ketujuh, di Jakarta, 1997-1998.

Ia memiliki hobi membaca. Waktu luang yang dimilikinya banyak dihabiskan untuk membaca buku-buku di perpustakaan. Ia juga mengikuti berbagai aktivitas keorganisasian di lingkungan pesantren. Saat masih duduk di kelas 5 SD, 1975, ia telah ikut terpilih masuk Pimpinan Cabang Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Surakarta.

Untuk menambah pengalaman dan kemandiriannya, ia bekerja di sela-sela waktu belajar formalnya. Kesenangannya bekerja ini menjadikannya akrab dengan beragam profesi, dari pertukangan, percetakan, penerbitan, sampai ke pendidikan masyarakat.

Masih berstatus mahasiswa S-1, ia diberi amanah menjadi Wakil Sekretaris PCNU Surakarta. Setelah lulus S-1 menjabat Sekretaris dan kemudian Ketua Tanfidziyah di cabang yang sama. Saat pergantian kepemimpinan nasional, pasca lengsernya Presiden Soeharto, Pak Dian menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah. Periode itu disebut Pak Dian sebagai “memberikan pengalaman luar biasa, karena Soloraya termasuk kawasan menentukan secara politik dan ideologis.” Sekarang menantu KHM Salman Dahlawi ini masuk di jajaran Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah.

Pak Dian menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di SD Negeri 94 Premulung Laweyan, Surakarta. Di sinilah ia bertemu dengan Guru Kelas 5 yang jitu memberinya bimbingan menulis. Kemudian melanjutkan ke SMP Al-Muayyad Mangkuyudan. Saat kelas 1 SMP pagi sampai siang hari itu ia sudah duduk di Kelas 6 Madrasah Diniyah Al-Muayyad yang masuk sore hari, sehingga sejak Kelas 2 SMP ia sudah tak berkewajiban belajar formal di sore hari. Pak Dian jadi memiliki waktu longgar di sore hari. Itu memberinya kesempatan luas untuk membaca buku-buku koleksi Mbah Umar di Kamar 4, yang saat itu menjadi perpustakaan pribadi beliau.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di MA Al-Muayyad, ia masuk di Universitas Sebelas Maret (UNS), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada jurusan Ilmu Komunikasi. Ia beruntung karena mendapatkan beasiswa Super Semar beberapa tahun dan melanjutkan pendidikan masternya di program studi Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Jakarta KPK UNS. Di tengah-tengah kesibukannya, ia tetap mengajar di Pesantren Al-Muayyad, tempat ia pernah nyantri.

Tahun 1983 ia ikut mentoring guru bersama 5 sejawat alumni MA angkatan 1983. Dalam proses kaderisasi guru itu ia ditugaskan mengajar di SMP Al-Muayyad mengampu mata pelajaran IPA Fisika dan Biologi. Mentor-nya adalah Prof Dr H Ashadi, dosen Pascasarjana UNS. Tahun 1992 ia dipercaya untuk menjabat Kepala SMA Al-Muayyad. Pak Dian mengajukan permohonan pengunduran diri sepuluh tahun kemudian, karena hendak fokus ke S-2 dan mengembangkan Pesantren Mahasiswa di Al-Muayyad Windan.

Pada tahun 1995, ia diberi kepercayaan oleh KH Abdul Rozaq Shofawi selaku Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Al-Muayyad untuk memimpin pondok pesantren cabang di Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, 4 Km sebelah Barat Al-Muayyad Mangkuyudan. Untuk memantapkan hatinya, ia menghadap (sowan) kepada 40 ulama sepuh di Pulau Jawa setelah meminta nasihat KHM Salman Dahlawi, mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah dan Pengasuh Pesantren Al-Manshur Popongan, Klaten, yang juga mertuanya.

Saat ini, Pak Dian tinggal bersama 56 santri mukim. Santri yang tidak mukim jauh lebih banyak. Ia dikenal oleh santri-santrinya sebagai kiai yang disiplin, arif, penyayang, profesional sekaligus humoris. Santri-santri juga menganggapnya sebagai bapak, pendidik, sekaligus teman belajar yang sangat asyik.

Ini nampak dari sikap yang ia tampilkan. Saat mengaji, ia akan mengabsen santrinya yang tidak hadir. Di sela-sela mengaji, ia memberikan tips cara berpikir sistematis dan merencanakan segala sesuatunya dengan baik, juga cara menjaga kesehatan, merawat alat-alat makan dan perabot pondok. Bahkan, ia juga sering berbagi cerita dan pelajaran dengan mengirim SMS kepada santri dan alumni.

Para alumni juga tergerak untuk membuat grup di social media. Melalui grup itu pelajaran Pak Dian diteruskan. Dan kebiasaan tadarus Al-Quran juga dirutinkan.

Tak hanya memberi perintah, Pak Dian lebih sering terlibat dalam aktivitas santri. Mulai dari bimbingan menulis karya ilmiah yang berkualitas, membersihkan berbagai tempat di pesantren, hingga berkebun, bercocok tanam, dan nukang (membetulkan atau membuat bangunan).

Penerima Solopos Award dan Penghargaan Rektor UNS sebagai Alumni Berprestasi ini tidak sekadar menyampaikan wejangan kepada santrinya, tetapi juga memberikan contoh agar santri cakap menerapkan dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Tak jarang di dalam tasnya terdapat peralatan untuk mengajar sampai kepada alat-alat tulis seperti spidol aneka warna. Perangkat LCD Projector juga sering dipergunakan. Kalau sudah tampil seperti itu Pak Dian lantas tampak sebagai seorang trainer. Ini mengingatkan para santri bahwa Pak Dian dahulunya juga bekerja sebagai pelatih kewirausahaan.

Pendidikan multikultural yang dipegang teguh dalam pembelajaran di Pesantren Al-Muayyad Cabang Windan menjadi kunci kesadaran para santri untuk mempersiapkan diri agar dapat hidup bermartabat di ruang publik. Karena itu, santri dituntut untuk mampu menyiapkan kebutuhan sendiri, menyelesaikan masalah, menyusun setiap rencana dengan baik, berperan positif di dalam kerja tim, serta mampu menerima berbagai budaya dan pemikiran dari warga yang berbeda agama.

Keterbukaan Kiai Dian dengan berbagai etnis dan agama mengantarkannya untuk aktif di beberapa organisasi perdamaian. Kita bisa menilik timnya dalam meredam konflik di Maluku, Kalimantan Tengah dan Sulawesi. Kehadiran kiai pengagum Mbah Umar dan Gus Dur ini di komunitas global, menjadi bukti keberhasilan pendidikan a la pesantren yang menempanya.

Sejak remaja Pak Dian sudah mendengar dari guru-guru di pesantren bahwa masyarakat negara-negara bekas jajahan sering terjebak ke dalam konflik horisontal sebagai akibat politik devide et impera. Saat mengikuti pendidikan S-2, ia semakin memahami bahwa konflik berkekerasan itu disamping karena ketidakadilan, juga disebabkan oleh perbenturan nilai-nilai dan kepentingan yang tak dikelola secara memadai.

Konflik itu akan semakin berbahaya ketika sentimen agama, termasuk aliran keagamaan, disertakan di dalamnya. “Yang terjadi sekarang di Mesir, Libya, Suriah, Irak dan Afganistan adalah pelajaran yang tak boleh dibiarkan lewat, setelah sebelumnya kita melihat negara pecah seperti Yugoslavia dan negara gagal semacam Ethiopia dan Somalia.” Begitu Pak Dian yang pernah mengajar Tata Negara dan PPKn di MA Al-Muayyad ini mengingatkan.

“Dekolonisasi di berbagai bidang kehidupan merupakan pekerjaan besar yang menuntut kesungguhan semua pendidik negeri ini,” tegas Pak Dian. Menurutnya, dekolonisasi itu adalah ikhtiar untuk mengentaskan diri dari mentalitas orang terjajah. “Orang terjajah itu mau berbuat baik hanya jika disuruh, dan mau berhenti dari perbuatan buruk hanya jika diancam,” lanjutnya.

Tak hanya sekali Pak Dian mengingatkan bahwa pesantren adalah “Kampus Kader Bangsa Indonesia. Itu juga merupakan salah satu visi Al-Muayyad, KKBI, Kampus Kader Bangsa Indonesia.”

Melihat konflik antaretnis dan penganut agama yang semakin marak tersebut, Kiai Dian Nafi tergerak untuk ikut bergabung bersama Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA) dan Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya. Tim-tim tersebut terdiri dari berbagai lembaga ternama, seperti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, dan Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta.

Kariernya sebagai pegiat rekonsiliasi telah dimulai dari kerja sama dengan timnya pada tahun 2000-2003, ketika bertugas di medan konflik di Provinsi Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Melalui proses yang panjang dan melelahkan, akhirnya semua usaha timnya membuahkan pelajaran yang positif. Pelajaran itu adalah “Perdamaian bukanlah hadiah, melainkan buah dari perjuangan tulus dari para pihak yang terlibat dalam persengketaan.”

Kesuksesan itu kemudian menjalar ke daerah lain. Timnya diminta ikut memfasilitasi pertemuan tokoh-tokoh Dayak dan Madura yang digelar di Jakarta dan Bogor. Dan di akhir bulan Juni 2014 bersama sejawatnya ikut hadir dalam pertemuan segitiga, yaitu 65 orang tokoh adat Papua dan Maluku, wakil-wakil dari 11 perusahaan tambang Migas dalam dan luar negeri, dan SKK Migas. Banyak pengalaman mengesankan dan pelajaran berharga yang diperolehnya dalam tugas-tugas semacam itu.

Keberhasilan Kiai Dian Nafi dalam menyemai perdamaian membuka kesempatan untuk belajar di forum internasional. Terbukti, ia diundang untuk mengikuti Disaster Management Training di Africa University, Mutare, Zimbabwe, 2001; Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA, 2003; dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA, 2005.

Konferensi-konferensi internasional yang pernah diikutinya antara lain adalah Education in Religion for Community, Agia Napa, Cyprus, 2001; Documenting Action Group in Asia, Karanganyar, Indonesia, 2002; Art and Spirituality, Fort Canning Centre, Singapore, 2003; Asia Africa People Forum, Colombo, Srilanka, 2004; International Meeting on Peace and Reconciliation, Knoxville, Tenesse, USA, 2005; Victoria and Tasmania Presenting Tour, Australia, 2008; Asian Peace Gathering, Siem Reap, Cambodia, 2011; Indonesian-Lebanon Dialog II, Malang, Indonesia, 2011; Asian Peace Consultation, Dhaka, Bangladesh, 2011; dan Afghanistan-Indonesian Peace Consultation, Jakarta, Indonesia, 2011.

Di tengah menguatnya kebutuhan umat akan karya para ulama dan dunia pesantren dalam kepenulisan, Kiai Dian hadir dengan berbagai tulisan yang berkualitas. Dengan berbagai kegiatan yang digelutinya, ia tetap menikmati hobinya membaca dan menulis. Bahkan, kiai yang masih terlihat muda di usia 50-an tahun ini tercatat sebagai kolumnis tetap di Harian Solopos, sebuah koran lokal di Solo Jawa Tengah.

Tak hanya itu, suami dari Hj Murtafiah Mubarokah ini juga ikut menulis dan menerbitkan beberapa buku, misalnya Mendayung Juanga, sebagai anggota tim penulis, Jakarta: PPRP, 2003; Menuju Rekonsiliasi Halmahera, sebagai anggota tim penulis, Jakarta: PPRP, 2003; Menimba Kearifan Masyarakat, kumpulan tulisan, Sukoharjo: Amwin Institute dan Pustaka Pesantren, 2004; Praksis Pembelajaran Pesantren, sebagai ketua tim penulis, Sukoharjo: Yayasan Selasih bekerjasama dengan ITD Amherst Massachussetts dan Forum Pesantren, 2007; Fikih Puasa untuk Remaja, Jakarta: Inti Medina (Tiga Serangkai Group), 2008; Aqiqah dan Hikmahnya, Jakarta: Inti Medina (Tiga Serangkai Group), 2009; Penanganan Kekerasan Berbasis Agama: Naskah Akademik Diajukan kepada Walikota Surakarta, sebagai aggota tim penulis, Surakarta: Spekham, Commitment dan FKPI, 2010.

Hobi menulis yang digeluti Kiai Dian bahkan juga menular ke istrinya. Terbukti, artikel-artikel Bu Murtafiah, sapaan akrabnya di kalangan santri, juga beberapa kali dimuat di koran.

Di usianya yang masih muda, KHM Dian Nafi telah melakukan banyak hal besar untuk diri, masyarakat dan pesantren yang diasuhnya. Meskipun berangkat dari kehidupan sederhana dan menghabiskan masa kecil serta remajanya di pondok pesantren, hal itu tak menghambatnya untuk berpikir kritis dan sistematis. Justru, dengan bekal ilmu dari pesantren itulah, ia memiliki wawasan yang luas.

Tak terasa kini ada 13 lembaga yang Pak Dian ikut menjadi penyelenggaranya. Yang 12 lembaga bergerak di bidang pendidikan dan yang satu merupakan lembaga penyiaran swasta, yaitu Radio Gesma FM 97.6 MHz. Pembaca yang jauh dari Soloraya dapat mengikuti radio ini melalui streaming www.gesmaradio.com. “Ini radio umum. Siapa saja bisa menikmati siarannya. Saat siaran pengajian, di situlah muatan khas Al-Muayyad bisa didengarkan,” papar Pak Dian.

Untuk menjangkau masa depan yang lebih baik, Pak Dian mengingatkan pesan Mbah Umar agar para santri selalu menghormati guru, orang tua dan pemimpin. “Manfaatkan masa muda sebaik-baiknya untuk memperbaiki budi pekerti, menguatkan kesamaptaan diri, menjalin persahabatan dan memperbaiki ibadah,” pesannya. Editor: Miftahul Abrori (MSA)

*Dirangkum dari beberapa sumber ditambah dengan wawancara 8 Januari 2015.

*) Dimuat di Majalah SERAMBI AL-MUAYYAD Edisi 07/TH.III/Rabiul Tsani 1436/ Januari 2015